Abu Musa Al-Asy'ari

Abu Musa Al-Asy'ari, dengan nama lengkap Abdullah ibn Qais ibn Salim ibn Harb ibn ‘Amir ibn al-Ash‘ar, adalah salah satu Sahabat mulia yang menemani Rasulullah (damai besertanya) pada awal panggilan Islam.
Ia menjadi terkenal sebagai orang yang bersama Rasul (damai besertanya), menyampaikan banyak hadits dan kebaikan dari beliau, yang menjadikannya teladan dalam asketisme, ketakwaan, dan kecintaan terhadap ilmu. Ia lahir dari suku Ash‘ari, sebuah suku yang terkenal karena ketakwaan dan kemurahan hatinya, yang menerima Islam sejak dini dan memainkan peran penting dalam mendukung panggilan Islam.
Pengumuman Awal Islam dan Perjalanannya ke Abyssinia
Abu Musa menerima Islam sejak awal di Mekkah, kemudian kembali ke kaumnya dan terus hidup di antara mereka hingga tiba saatnya ketika ia, bersama sekelompok orang Ash‘ari, melakukan perjalanan ke Madinah untuk menemui Rasulullah (damai besertanya).
Kedatangan mereka bertepatan dengan kedatangan Ja'far ibn Abi Talib dan para sahabatnya dari Abyssinia. Menurut berbagai riwayat, ketika angin mengarahkan kapal mereka ke Abyssinia, mereka sempat tinggal di sana untuk beberapa waktu sebelum bergabung dengan pasukan Nabi dalam penaklukan Khaybar. Perjalanan yang diberkahi ini menandai tonggak penting dalam sejarah hijrah ke Madinah.
Penerimaan Kabar Gembira dan Keutamaan Suku Mereka
Penerimaan kabar gembira dari Nabi oleh keluarga para hijrah merupakan peristiwa unik dalam kehidupan Abu Musa. Hal ini terlihat ketika Nabi (damai besertanya) sedang bermalam di al-Ji'rānah antara Mekkah dan Madinah. Seorang lelaki bermata satu datang dan meminta agar Nabi memenuhi janjinya tentang kabar gembira.
Pada saat itu, Nabi menyatakan bahwa kabar gembira itu telah bertambah berkat kehadiran Abu Musa dan Bilal, yang menunjukkan status istimewa suku Ash‘ari, dikenal karena kemurahan hati dan pengabdiannya yang tulus kepada Islam. Hadits-hadits yang tercatat dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim mencerminkan persatuan dan dukungan timbal balik suku ini dalam masa-masa kesulitan, baik dalam berjihad maupun dalam membagi pahala.
Pembacaan Al-Qur'an dan Pengabdian
Abu Musa memegang posisi istimewa dalam pembacaan Al-Qur'an. Nabi (damai besertanya) meriwayatkan bahwa beliau diberikan sebuah “mizmar” (sejenis alat musik) dari peralatan keluarga Daud, yang menunjukkan kualitas dan keindahan bacaan Al-Qur'annya.
Generasi awal Muslim memuji pengabdiannya dalam beribadah; ia dikenal melaksanakan shalat malam dengan suara yang sangat merdu sehingga bahkan istri-istri Nabi (damai besertanya) mendengarkan dengan seksama. Selain itu, persiapannya yang cermat dalam beribadah dan cara berpakaian yang sopan untuk menghindari pamer menunjukkan ketakwaannya dan kepatuhannya terhadap batasan yang ditetapkan oleh Syariah.
Dedikasi terhadap Ilmu dan Kontribusi dalam Jihad
Abu Musa adalah salah satu ulama dan ahli hukum yang muncul pada masa-masa awal Islam. Diriwayatkan bahwa beliau telah menyampaikan sekitar 360 hadits, dan beliau dikutip dengan 49 hadits dalam dua kitab shahih, dengan al-Bukhari meriwayatkan empat hadits unik dan Muslim lima belas hadits. Sebagai seorang ahli hukum, beliau menekankan bahwa seorang hakim tidak boleh menjatuhkan putusan sampai kebenaran menjadi sejelas perbedaan antara malam dan siang, sebuah metodologi yang diadopsi oleh para Sahabat dalam menangani urusan agama dan dunia.
Di bidang jihad dan upaya militer, beliau berpartisipasi dalam berbagai pertempuran dan memainkan peran penting dalam kampanye di Syam dan Basra. Penunjukan beliau oleh khalifah yang mendapat petunjuk untuk tugas-tugas militer dan administratif menegaskan reputasinya tidak hanya sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai pejuang yang pemberani dan cerdas.
Kata-kata Orang Saleh dan Kebijaksanaan
Berbagai riwayat menceritakan kata-kata bijak Abu Musa, yang mencerminkan pemahaman mendalam tentang iman dan etika. Beliau mendorong orang untuk memilih pergaulan yang shalih dengan menegaskan bahwa teman yang baik lebih berharga daripada kesendirian, serta menekankan pentingnya mengikuti Al-Qur'an dengan tekun sebagai sumber pahala dan perlindungan.
Beliau menyamakan hati dengan bulu yang mudah terombang-ambing oleh liku-liku kehidupan. Kata-kata bijaknya meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang mendengarnya, sehingga beliau dihormati tinggi di kalangan generasi saleh awal dan penerusnya.
Perpisahan dengan Doa dan Harapan
Abu Musa Al-Asy'ari wafat di Kufah. Diriwayatkan bahwa wafatnya terjadi baik di Mekkah pada tahun 42 H atau pada tahun 44 H, dan beliau berusia 63 tahun, yang menegaskan bahwa beliau menjalani kehidupan penuh kontribusi dalam pelayanan kepada Islam. Meskipun kehidupan duniawinya telah berakhir, warisan beliau dalam ilmu, ibadah, dan jihad tetap hidup. Semoga Allah merahmati beliau dan membalas kebaikannya dengan balasan terbaik.
Kita memohon kepada Allah, dengan Asma'ul Husna dan Sifat-Sifat-Nya yang Mulia, agar menjadikan karya ini tulus karena wajah-Nya yang Mulia dan menjadi harta bagi kita pada Hari Kiamat. Semoga bermanfaat bagi para pencari ilmu yang terhormat, dan semoga setiap pembaca yang tulus mendoakan kepada Allah bagi kita agar diberikan ketulusan, keberhasilan, keteguhan dalam kebenaran, dan akhir yang baik, karena doa seorang Muslim yang tulus untuk saudaranya selalu dikabulkan.