Bagaimana Menyambut Bulan Ramadan? Temukan Jawabannya
-
Bagaimana Menyambut Bulan Ramadan
- 1. Bergembira dengan Kedatangan Bulan Ramadan yang Diberkahi
- 2. Menyambut Ramadan dengan Pujian dan Syukur kepada Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi
- 3. Ikhlas dalam Niat di Hadapan Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi
- 4. Mempersiapkan Diri sebelum Ramadan
- 5. Taubat yang Tulus
- 6. Menyadari Nilai Waktu
- 7. Mengurangi Asupan Makanan
- 8. Mempelajari Hukum-hukum Puasa
-
Ramadan: Kesempatan untuk Berubah
-
Persiapan Menyambut Ramadan di Bulan Syaʿbān
- 1. Berpuasa di Bulan Syaʿbān
- 2. Beribadah di Saat Banyak Orang Lengah
- 3. Bersungguh-sungguh (Mujāhadah) dalam Beribadah
- 4. Melakukan Amal Terbaik agar Diterima oleh Rabb Semesta Alam
- 5. Ikhlas (Ikhlāṣ)
- 6. Memohon Ampunan Allah pada Malam Pertengahan Syaʿbān
- 7. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
- 8. Salat Malam (Tahajjud) dan Memanjangkan Waktu Berdiri dalam Salat
Bagaimana Menyambut Bulan Ramadan
Rasulullah—semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepadanya—menyambut bulan Ramadan dengan cara yang istimewa, berbeda dari caranya menyambut bulan-bulan lainnya. Bulan ini memiliki kedudukan tersendiri bagi beliau—shalallahu ‘alaihi wa sallam—dan juga para Sahabat—radhiyallahu ‘anhum. Beliau—shalallahu ‘alaihi wa sallam—memberikan kabar gembira kepada mereka tentang kedatangan bulan tersebut. Diriwayatkan bahwa beliau—shalallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan puasa di dalamnya. Di bulan itu pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, dan setan-setan yang durhaka dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan; siapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia telah terhalang (dari segala kebaikan).”
Salah satu tanda betapa tinggi penghormatan para Sahabat—radhiyallahu ‘anhum—terhadap bulan Ramadan yang diberkahi ini adalah bahwa mereka berdoa kepada Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—selama enam bulan agar diberi kesempatan bertemu Ramadan. Kemudian, mereka menghabiskan enam bulan berikutnya untuk memohon agar amal ibadah yang telah mereka lakukan di dalamnya diterima. Demikian pula, generasi salaf yang saleh—rahimahumullah—bersiap menyambut Ramadan dengan banyak berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—terlebih karena Ramadan memang bulan yang diberkahi. Bulan ini adalah bulan Al-Qur’an; pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di antara amal kebaikan yang menonjol di dalamnya adalah puasa, salat malam, kesungguhan dalam ibadah, kesabaran, dan doa. Oleh sebab itu, setiap Muslim wajib mempersiapkan diri menyambut bulan yang mulia ini dan memanfaatkannya sebaik mungkin dengan berbagai bentuk ibadah dan ketaatan. Berikut adalah beberapa amal yang dapat dilakukan untuk menyambut Ramadan:
1. Bergembira dengan Kedatangan Bulan Ramadan yang Diberkahi
Seorang hamba yang saleh menyambut momen kebaikan dan ibadah dengan penuh sukacita dan optimisme. Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—berfirman:
“Dan apabila suatu surah diturunkan, di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapa di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, surah itu menambah iman mereka, dan mereka pun bergembira.”
(QS. At-Taubah [9]: 124)
Ramadan termasuk waktu yang diberkahi; di dalamnya banyak orang kembali kepada Rabb mereka, para pendosa bertaubat, dan salat berjemaah memenuhi masjid di setiap waktu. Hati kaum beriman bersuka cita, dan jiwa-jiwa yang bersih merasa bahagia karena dapat mendekatkan diri kepada Rabb yang Mahamulia.
2. Menyambut Ramadan dengan Pujian dan Syukur kepada Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi
Mampu menjumpai bulan Ramadan dan berpuasa di dalamnya termasuk salah satu nikmat terbesar yang Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu, seorang hamba harus giat memuji dan bersyukur kepada-Nya. Salah satu bukti utama keutamaan Ramadan adalah kisah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—tentang dua orang dari kabilah Balī (sebagian dari suku Qudā‘ah) yang sama-sama memeluk Islam bersama Nabi—shalallahu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka gugur sebagai syahid, sedangkan yang lainnya meninggal setahun kemudian. Thalhah ibn ‘Ubaydullah menuturkan:
“Aku diperlihatkan Surga dalam mimpi. Kulihat orang yang meninggal belakangan itu masuk Surga sebelum yang syahid. Hal itu membuatku heran. Ketika pagi menjelang, aku ceritakan hal itu kepada Nabi—shalallahu ‘alaihi wa sallam—atau hal itu diceritakan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Bukankah dia sempat berpuasa satu Ramadan lebih banyak daripada yang gugur syahid itu, dan dia juga mengerjakan salat sekian banyak dalam setahun?’”
3. Ikhlas dalam Niat di Hadapan Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi
Untuk menyambut Ramadan, seseorang hendaknya memperbarui niatnya dan bertekad kuat memanfaatkan sepenuhnya waktu-waktu yang diberkahi ini dengan taat kepada Allah dan menjauhi maksiat, menata hati, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh. Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—menganugerahkan pahala kepada seseorang sesuai dengan niatnya. Diriwayatkan dari Rasulullah—shalallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa beliau bersabda:
“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan seseorang hanya akan mendapatkan (pahala) sesuai apa yang diniatkan.”
4. Mempersiapkan Diri sebelum Ramadan
Persiapan ini meliputi melatih diri dan membiasakan berbagai bentuk ketaatan seperti salat malam, puasa, dan membaca Al-Qur’an, sehingga ketika Ramadan tiba, jiwa dan raga telah siap beribadah tanpa merasa berat. Tercatat dalam riwayat bahwa Rasulullah—shalallahu ‘alaihi wa sallam—memperbanyak puasa pada bulan Sya‘ban sebagai persiapan memasuki Ramadan. Dari ‘A’isyah—radhiyallahu ‘anha—diriwayatkan bahwa ia berkata:
“Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa sebulan penuh lebih banyak daripada di bulan Sya‘ban. Beliau hampir berpuasa sepanjang Sya‘ban—bahkan beliau berpuasa seluruhnya kecuali sedikit.”
5. Taubat yang Tulus
Meskipun taubat wajib dilakukan setiap saat dan untuk setiap dosa, namun di bulan Ramadan—musim kebaikan dan ibadah—hal ini menjadi lebih mendesak. Sebab, dosa-dosa dapat menghalangi seseorang dari keberhasilan dalam beribadah dan dari manisnya kedekatan dengan Allah serta ketaatan kepada-Nya. Diriwayatkan bahwa orang-orang pernah berkata kepada al-Hasan al-Bashri: “Kami tidak sanggup bangun untuk salat malam.” Beliau menjawab, “Dosa-dosamulah yang membelenggumu.” Beberapa ulama salaf juga pernah berkata: “Aku terhalang untuk qiyamul-lail selama setahun karena satu dosa yang aku lakukan.” Al-Fuḍayl ibn ‘Iyāḍ—rahimahullah—berkata: “Jika engkau tidak mampu berdiri (salat) di malam hari dan berpuasa di siang hari, ketahuilah bahwa engkau sedang terbelenggu; dosa-dosamulah yang membelenggumu.”
Oleh karena itu, sambutlah Ramadan dengan pembaruan taubat dan penuhi syarat-syaratnya, yaitu menyesali dosa, bertekad tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak orang lain (jika ada). Selain itu, perbanyak istighfar dan doa agar Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—menerima amal-amal kita.
6. Menyadari Nilai Waktu
Banyak momen berharga terlewat karena seseorang tidak memahami betapa berharganya waktu. Seorang Muslim hendaknya memanfaatkan setiap menit untuk amal saleh dan ibadah. Ibn al-Jawzī—rahimahullah—berkata: “Seseorang seharusnya menyadari keutamaan dan nilai waktunya, dan tidak menyia-nyiakan sekejap pun kecuali untuk mendekatkan diri (kepada Allah).”
Terlebih, hari-hari di bulan Ramadan sangatlah terbatas tetapi bernilai tinggi. Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—berfirman tentang Ramadan:
“…(yaitu) beberapa hari tertentu (yang ditetapkan)…”
(QS. Al-Baqarah [2]: 184)
Ayat ini menunjukkan bahwa hari-hari di bulan Ramadan yang agung ini hanya sedikit dan cepat berlalu, sehingga kita harus bersiap untuk memanfaatkannya semaksimal mungkin sebelum kesempatan itu hilang dan menyisakan penyesalan.
7. Mengurangi Asupan Makanan
Berlebihan dalam makan dapat menyebabkan malas dalam menjalankan ibadah dan mengurangi kekhusyukan saat berdiri di hadapan Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi. Padahal, salah satu tujuan puasa adalah untuk mengurangi konsumsi makanan. Larangan berlebih-lebihan dalam makan ditegaskan oleh apa yang diriwayatkan dari Rasulullah—shalallahu ‘alaihi wa sallam—ketika seorang laki-laki bersendawa di hadapan beliau. Maka beliau—shalallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:
“Tahan sendawamu di hadapan kami, karena sesungguhnya orang yang paling banyak kenyangnya di dunia akan paling lama lapar pada Hari Kiamat.”
Salamah ibn Sa‘īd—rahimahullah—pernah mengatakan: “Seseorang bisa dicela karena perutnya sebagaimana ia dicela karena suatu dosa yang dilakukannya.”
8. Mempelajari Hukum-hukum Puasa
Para ulama menjelaskan bahwa mempelajari hukum-hukum puasa itu wajib bagi setiap orang yang terkena kewajiban berpuasa. Ketidaktahuan terhadap aturan, adab, dan syarat-syarat puasa bisa mengakibatkan hilangnya pahala. Bisa jadi seseorang tetap berpuasa padahal ia memiliki uzur syar‘i yang membolehkannya untuk berbuka, atau ia berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga karena tidak memahami ketentuan-ketentuan puasa yang benar.
Demikianlah beberapa cara untuk menyambut bulan Ramadan. Semoga Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—menganugerahkan taufik dan kemudahan bagi kita untuk meraih keutamaan-keutamaan yang ada di dalam bulan yang agung ini, serta menerima setiap amal saleh dan ibadah yang kita persembahkan. Aamiin.
Ramadan: Kesempatan untuk Berubah
Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—telah menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh waktu-waktu istimewa yang di dalamnya pahala dilipatgandakan, suasana keimanan tersebar, dan jiwa-jiwa terangkat. Di antara waktu-waktu yang diberkahi tersebut adalah bulan Ramadan, yang merupakan kesempatan luar biasa untuk bertaubat, meninggalkan dosa, serta memperbarui keimanan di dalam hati. Seorang Muslim hendaknya mempersiapkan diri secara mental untuk menyambut Ramadan. Sungguh, para Sahabat—radhiyallahu ‘anhum—biasa berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaʿbān, serta pertemukanlah kami dengan Ramadan.” Maka ketika Ramadan tiba, mereka menyambutnya dengan hati yang hidup, semangat yang membara, serta memperbarui janji dengan Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—dengan terus berpegang pada ketaatan dan menjauhi perbuatan dosa.
Diriwayatkan dari Rasulullah—shalallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa beliau bersabda:
“Celakalah seseorang yang, ketika disebut namaku di hadapannya, ia tidak berselawat atasku. Celakalah seseorang yang memasuki Ramadan, lalu Ramadan berlalu sebelum ia diampuni. Dan celakalah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya mencapai usia lanjut, namun keduanya tidak memasukkannya ke Surga.”
Oleh karena itu, seorang hamba wajib memanfaatkan kesempatan agung yang diberikan Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi—kepada orang-orang yang telah menzalimi diri mereka dengan dosa dan kesalahan: segera bertaubat dan memohon ampunan kepada Rabb mereka sebelum datang kematian, agar tidak menyesali kelalaian dan kegagalan mereka dalam taat kepada Allah—Mahasuci dan Maha Tinggi. Allah—Maha Perkasa lagi Mahabijaksana—berfirman:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia).’”
(QS. Al-Mu’minun [23]: 99)
Persiapan Menyambut Ramadan di Bulan Syaʿbān
Bulan Syaʿbān adalah salah satu musim kebaikan dan ibadah yang Allah—Mahasuci dan Mahatinggi—anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, terutama karena ia hadir tepat sebelum tibanya bulan Ramadan yang penuh berkah. Dengan demikian, seorang Muslim sepatutnya mempersiapkan diri menyambut Ramadan pada bulan Syaʿbān. Sesungguhnya, Syaʿbān menjadi pintu gerbang untuk menunaikan perjanjian dengan Allah melalui salat, zikir, dan ketaatan. Berikut adalah beberapa amal yang dapat dilakukan di bulan Syaʿbān:
1. Berpuasa di Bulan Syaʿbān
Orang-orang beriman hendaknya meneladani Nabi mereka—semoga Allah senantiasa melimpahkan salawat dan salam kepadanya—dengan berpuasa di bulan Syaʿbān. Beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—biasa berpuasa hampir sepanjang atau bahkan seluruh bulan ini. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin, ʿĀʾishah—radhiyallahu ‘anha—bahwa ia berkata:
“Beliau sering berpuasa sampai kami mengatakan, ‘Sepertinya beliau tidak akan pernah berbuka!’ Dan beliau juga kadang berhenti berpuasa sampai kami berkata, ‘Sepertinya beliau tidak akan berpuasa lagi!’ Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa sebulan penuh lebih banyak daripada di bulan Syaʿbān; beliau berpuasa sepanjang Syaʿbān kecuali sedikit—bahkan hampir seluruhnya.”
Sebagian orang mungkin khawatir bahwa berpuasa di bulan Syaʿbān akan melemahkan tekad berpuasa di bulan Ramadan, namun kenyataannya siapa pun yang berpuasa di Syaʿbān—karena mengharap pahala dan ampunan dari Allah—insya Allah akan dikuatkan untuk berpuasa di kedua bulan tersebut. Kapan pun Allah membukakan pintu ketaatan, Dia memudahkan sarana untuk melakukannya; dan kapan pun Dia membukakan pintu ampunan, Dia juga menyediakan jalan untuk meraihnya. Prinsip umumnya, seorang Muslim hendaknya bersemangat melakukan kebaikan tanpa terlalu memikirkan hasil akhirnya, karena segala akhir berada di tangan Allah—Mahasuci dan Mahatinggi—dan pasti akan baik bagi hamba-Nya.
2. Beribadah di Saat Banyak Orang Lengah
Tidak sedikit Muslim yang menjadi lalai di bulan Syaʿbān. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah memperingatkan umatnya agar waspada terhadap kelalaian semacam ini. Siapa pun yang benar-benar menginginkan akhirat tidak akan terganggu oleh kelalaian orang-orang di sekitarnya; ia memiliki jalan sendiri, menghadap kepada Allah—Mahasuci dan Mahatinggi—dengan salat, ibadah, dan doa yang khusyuk. Di antara keutamaan beribadah ketika kebanyakan orang lengah adalah:
-
Mendapatkan Cinta Allah—Mahaperkasa dan Mahatinggi
Allah mencintai hamba yang mengingat-Nya di saat banyak orang melupakan-Nya. -
Terjaga dari Bencana
Allah—Mahasuci Dia—berfirman:“Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman?”
(QS. An-Nisā’ [4]: 147) -
Meraih Pahala yang Dilipatgandakan
Ketaatan terasa lebih berat saat kebanyakan orang lalai, sehingga Allah melipatgandakan pahala bagi mereka yang tetap teguh beribadah di saat seperti itu.
3. Bersungguh-sungguh (Mujāhadah) dalam Beribadah
Siapa saja yang diuji dengan hati yang keras, kelalaian dari ketaatan kepada Allah, atau cenderung mendahulukan hawa nafsu daripada perintah-Nya, harus berjuang melawan dirinya sendiri agar tetap istiqamah dalam ibadah. Inilah jalan untuk tegak di atas kebenaran dan petunjuk. Hamba hendaknya mengingat bahwa Allah—Mahatinggi—akan mendekat kepada siapa pun yang mendekat kepada-Nya. Jika Allah menerima hamba-Nya, Dia akan memberinya taufik, melindunginya, membimbing langkahnya, dan melimpahkan kebaikan yang banyak. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—meriwayatkan dari Rabb-nya—Mahabesar lagi Mahatinggi:
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan; dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti akan Aku lindungi….”
4. Melakukan Amal Terbaik agar Diterima oleh Rabb Semesta Alam
Sudah sepatutnya seseorang memanfaatkan bulan Syaʿbān dengan menjalankan amal yang terbaik, karena pada bulan inilah amal-amal diangkat ke hadapan Allah—Mahasuci dan Mahatinggi. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda tentang bulan Syaʿbān:
“Itulah bulan yang banyak dilupakan orang, yakni antara Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan ketika amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam. Maka aku suka apabila amal-amalku diangkat sementara aku sedang berpuasa.”
5. Ikhlas (Ikhlāṣ)
Momen ketika banyak orang lalai merupakan waktu yang sangat baik untuk memurnikan niat hanya kepada Allah—Mahasuci Dia—ketika tampak dan batin seseorang selaras. Dengan demikian, jiwa akan terbiasa melakukan ibadah semata-mata demi mencari keridaan Allah, tanpa terganggu oleh perhatian manusia. Melatih keikhlasan di bulan Syaʿbān memungkinkan seseorang menilai dan memperbaiki diri sebelum memasuki Ramadan, agar ia tidak keluar dari Ramadan dalam keadaan sama seperti saat ia memasukinya.
6. Memohon Ampunan Allah pada Malam Pertengahan Syaʿbān
Bagian dari persiapan menyambut Ramadan adalah memperbanyak memohon ampunan kepada Allah, dan banyak ulama menganjurkan untuk menghidupkan malam Nisfu Syaʿbān dengan beribadah, dengan harapan termasuk di antara orang-orang yang diampuni. Apabila seseorang meraih ampunan pada malam tersebut, keberkahan ampunan itu akan menaungi sisa hari-hari di bulan Syaʿbān, sehingga ketika Ramadan tiba, ia telah berada dalam keadaan diampuni dan siap menghadap Allah—Mahasuci dan Mahatinggi—dengan cara yang diridai-Nya.
7. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Dianjurkan agar seseorang memperbanyak membaca Al-Qur’an dan merenungi ayat-ayatnya di bulan Syaʿbān sebagai persiapan menyambut Ramadan—bulan Al-Qur’an. Allah—Mahasuci dan Mahatinggi—berfirman:
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Siapa pun yang rutin membaca Al-Qur’an di bulan Syaʿbān akan merasakan kenikmatan yang lebih mendalam saat membacanya di bulan Ramadan.
8. Salat Malam (Tahajjud) dan Memanjangkan Waktu Berdiri dalam Salat
Seseorang hendaknya mulai membiasakan diri untuk berdiri lama dalam salat dan mengerjakan salat malam di bulan Syaʿbān, agar tidak sampai Ramadan berlalu sebelum ia terbiasa melakukannya. Salat malam termasuk salah satu ibadah yang paling utama di sisi Allah—Mahasuci dan Mahatinggi. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:
“Waktu terdekat antara Rabb dan hamba-Nya adalah pada sepertiga malam terakhir. Jadi jika engkau mampu termasuk orang-orang yang berzikir (mengingat Allah) pada saat itu, maka lakukanlah.”
Semoga kita diberikan taufik oleh Allah—Mahasuci Dia—untuk meneladani langkah-langkah di atas, sehingga dapat memasuki Ramadan dengan kesiapan spiritual yang lebih baik dan meraih berbagai keutamaan yang Allah janjikan. Aamiin.