Jelajahi Warisan Penyair Pra-Islam Zuhayr bin Abi Sulma

Jelajahi Warisan Penyair Pra-Islam Zuhayr bin Abi Sulma
Oleh Who Muhammad Is Tim
| Komentar

Siapa Zuhayr bin Abi Sulma?

Zuhayr bin Abi Sulma adalah salah satu penyair terkemuka pada era pra-Islam (Jahiliyah). Ia dianggap sebagai salah satu dari tiga penyair terbaik menurut para kritikus sastra, bersama dengan Imru' al-Qays dan al-Nabighah al-Dhubyani. Meskipun ada perdebatan mengenai siapa yang terbaik di antara mereka, semua sepakat atas keunggulan ketiganya. Zuhayr adalah penyair yang sangat dihormati dan dipuji oleh banyak orang. Khalifah Umar bin al-Khattab menganggapnya sebagai penyair terbesar.

Ibn Abbas meriwayatkan: "Aku pergi bersama Umar dalam ekspedisi militer pertamanya, dan dia bertanya kepadaku: 'Bacakan untukku penyair terbaik.' Aku bertanya, 'Siapa itu, wahai Amirul Mukminin?' Dia menjawab, 'Zuhayr bin Abi Sulma.' Aku bertanya, 'Mengapa dia?' Dia berkata, 'Karena dia tidak menggunakan bahasa kotor, tidak bicara dengan cara yang berbelit-belit, hanya mengatakan yang benar, dan hanya memuji orang karena sifat asli mereka.'"

Garis Keturunan, Masa Kecil, dan Kehidupan Zuhayr bin Abi Sulma

Zuhayr adalah putra dari Abi Sulma, yang bernama lengkap Rabi’ah bin Riyah bin ‘Awwam bin Qurt bin al-Harith bin Mazin bin Tha’labah bin Thawr bin Hazmah bin Latim bin ‘Uthman bin Muzaynah bin Ud bin Tabikhah bin Ilyas bin Mudar. Julukannya (kunyah) adalah Abu Sulma, dinamai dari putrinya Sulma, sebuah nama yang jarang digunakan di kalangan perempuan Arab saat itu.

Ia berasal dari suku Muzaynah dan dibesarkan di tengah keluarga ibunya dari suku Banu Ghatafan, di bawah asuhan pamannya Bishamah, yang juga seorang penyair terkenal. Ia menikahi putri pamannya, Umm Awfa, yang memberinya anak-anak yang semuanya meninggal muda. Kemudian, ia menikah dengan Kabshah binti ‘Ammar al-Ghatafaniyyah. Kehadiran Kabshah menimbulkan kecemburuan besar pada Umm Awfa, yang menyebabkan pertengkaran dan perceraian, meskipun Zuhayr sangat mencintainya dan sering menyebutnya dalam puisi.

Kabshah memberinya tiga putra: Ka’b, Bujayr, dan Salim. Salim meninggal di masa hidup Zuhayr setelah jatuh dari kuda dan patah leher. Zuhayr sangat meratapi kepergiannya.

Para sejarawan memperkirakan bahwa Zuhayr lahir sekitar tahun 520 atau 530 M. Ia menulis puisi terkenalnya, Mu’allaqah, setelah Perang Dahis dan Ghabra yang berakhir antara tahun 608–610 M. Saat itu, usianya sekitar 80 tahun, sebagaimana ia nyatakan dalam puisinya:

"Aku lelah oleh beban kehidupan, dan siapa pun yang hidup delapan puluh tahun pasti akan merasa jenuh."

Karakter dan Etika Zuhayr bin Abi Sulma

Meskipun ia wafat sekitar satu tahun sebelum Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu, Zuhayr memiliki sifat-sifat mulia yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Ia jujur, setia, cinta damai, bermoral, dan percaya pada Tuhan serta Hari Akhir. Ia menjauhkan diri dari praktik penyembahan berhala pada zamannya. Puisinya mencerminkan kecenderungan spiritual ini.

"Aku bersumpah demi Rumah Suci yang dikelilingi oleh orang-orang Quraisy dan Jurhum... Demi Tuhan, kalian berdua (pemimpin suku) adalah mulia dalam segala hal."

Ia menyerukan perdamaian, kebajikan, dan hanya memuji mereka yang layak. Orang-orang yang ia puji dikenang karena kebenaran puisinya.

Pengaruh Asuhan

Asuhannya di tengah keluarga ibunya, terutama pamannya Bishamah, sangat memengaruhi moral dan kepribadian puitisnya. Meskipun ia hidup dalam kenyamanan, ia merindukan kampung halamannya, yang menggerakkan emosinya dalam puisi. Bishamah, yang tidak memiliki anak laki-laki, mewariskan puisinya kepada Zuhayr, dengan mengatakan:

"Aku memberimu sesuatu yang lebih baik, puisiku sebagai warisanmu."

Ia juga dipengaruhi oleh Aws bin Hajar, yang menikahi ibunya setelah ayahnya wafat. Aws adalah penyair terkemuka dari suku Mudar, dan Zuhayr menjadi perawi puisinya. Pengaruh-pengaruh ini membentuk warisan sastra Zuhayr.

Zuhayr sebagai Penyair

Zuhayr berasal dari keluarga penyair: ayah, paman, saudari-saudarinya (al-Khansa dan Sulma), serta anak-anaknya (Ka’b dan Bujayr) semuanya adalah penyair. Puisi tetap hidup dalam keluarganya selama beberapa generasi. Ia hidup nyaman dari warisan dan hasil puisinya. Ia menyaksikan perang antara suku Abs dan Dhubyan, dan menulis Mu’allaqah untuk memuji pendamai Haram bin Sinan dan al-Harith bin ‘Awf, yang membayar diyat selama tiga tahun. Zuhayr memuji mereka karena pengorbanan dan kemurahan hati mereka.

Puisinya membahas tema umum zamannya: kerinduan, pujian terhadap suku, dan perjalanan, namun juga sarat kebijaksanaan dan seruan reformasi moral. Meskipun ia tidak mengalami cinta yang menggebu-gebu, ia mengungkapkannya dengan indah dalam puisinya. Ia dikenal akan kemuliaan dan kesucian; puisinya bebas dari bahasa kotor.

Gaya dan Kebijaksanaan Zuhayr bin Abi Sulma

Zuhayr adalah pelopor aliran puisi halus yang didirikan oleh Aws bin Hajar. Aliran ini menekankan puisi yang diperhalus dan disusun dengan baik. Zuhayr bisa menghabiskan berbulan-bulan untuk satu puisi dan merevisinya selama setahun sebelum dibacakan. Anak-anak dan murid-muridnya mengikuti metodenya.

Ciri Utama Puisinya:

  • Penuh kebijaksanaan yang berasal dari pengalaman hidup nyata.
  • Pilihan kata yang hati-hati, kadang sederhana, kadang kuat dan fasih.
  • Bahasa yang jelas dan alami, dengan citra puitis kaya seperti metafora, simile, dan kontras.
  • Tema yang jujur, menghindari hiperbola kecuali dalam bentuk seni yang indah.

Mu’allaqah Zuhayr bin Abi Sulma

Mu’allaqah Zuhayr ditulis setelah perang Abs–Dhubyan. Puisi ini memuji para pendamai dan menyerukan rekonsiliasi, serta memperingatkan terhadap pertumpahan darah dan kebencian. Puisi ini terdiri dari 59 bait dan meliputi bagian-bagian berikut:

  1. Kerinduan: Ia meratapi rumah kekasihnya yang ditinggalkan, kini menjadi tempat tinggal binatang. Ia hanya dapat mengenalinya setelah pengamatan mendalam.
    "Apakah reruntuhan rumah Umm Awfa berbicara kepadamu...?"
  2. Karavan: Ia mengingat keberangkatan agung karavan di waktu fajar, dengan hiasan indah dan rute perjalanannya.
  3. Pujian terhadap Pendamai:
    "Sesungguhnya kalian adalah pemimpin yang mulia dalam segala hal... Kalian menyatukan Abs dan Dhubyan setelah hampir saling memusnahkan."
  4. Nasihat kepada Suku yang Bertikai:
    "Jangan sembunyikan dari Tuhan apa yang ada di dalam hatimu... Tuhan akan mengetahui apa yang kamu sembunyikan."
  5. Bait-bait Kebijaksanaan:
    "Siapa pun yang takut mati, kematian akan mencarinya, bahkan jika ia naik ke langit dengan tangga."
    "Barang siapa menimbun hartanya dan tidak membantu kaumnya, mereka akan meninggalkannya dan mencelanya."

Kematian Zuhayr bin Abi Sulma

Zuhayr meninggal pada tahun 631 M, sekitar satu tahun sebelum Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu. Sebelum wafat, ia bermimpi akan menyaksikan sesuatu yang agung dari langit. Ia berkata kepada putranya:

"Aku yakin sesuatu dari langit akan terjadi setelahku. Jika itu datang, peganglah erat-erat."

Mimpinya menjadi kenyataan. Setelah kenabian dimulai, putranya Ka’b memeluk Islam dan menulis puisi terkenal “Banat Su’ad” untuk memuji Nabi Muhammad ﷺ.

Kategori Beragam

Tinggalkan Komentar

Harap jangan menggunakan nama bisnis Anda untuk berkomentar.