Hewan-Hewan Favorit Nabi Muhammad SAW

Hewan-Hewan Favorit Nabi Muhammad SAW
Oleh Who Muhammad Is Tim
| Komentar

Umat Muslim meyakini bahwa Nabi Muhammad diutus "sebagai rahmat bagi seluruh alam" (Q 21:107). Beliau tidak hanya menunjukkan kasih sayang kepada manusia; kasih sayangnya mencakup setiap makhluk hidup di planet ini. Literatur hadits dipenuhi dengan kisah-kisah di mana Nabi melihat penderitaan hewan jauh sebelum orang di sekitarnya menyadarinya, mengajarkan perlakuan yang baik, dan mengaitkan rahmat terhadap makhluk hidup dengan rahmat ilahi terhadap diri kita sendiri.

Lima spesies hewan, secara khusus, sering muncul dalam sirah (biografi) dan kumpulan hadits: kucing, unta, kuda, keledai, serta kambing atau domba. Masing-masing memiliki momen spesial—bahkan berkali-kali—dalam kehidupan Nabi, dan masing-masing mengandung pelajaran etika bagi kita saat ini. Berikut adalah penjelajahan atas lima hewan kesayangan tersebut, teks-teks utama yang menyebutkannya, dan nilai-nilai yang bisa diambil umat dari kisah-kisah mereka.

1. Kucing yang Lembut

"Apakah Nabi Memiliki Kucing?" Kucing adalah hewan peliharaan yang paling dicintai, umum dipelihara dan dirawat di banyak rumah. Sedikit kisah tentang Nabi yang lebih sering diceritakan daripada cerita tentang seekor kucing bernama Muezza yang pernah tertidur di jubah Nabi; daripada mengganggunya, Nabi disebut memotong kain di sekelilingnya dan membiarkannya tetap tidur. Para ahli hadits modern menunjukkan bahwa kisah ini tidak dapat ditelusuri ke koleksi kanonik mana pun dan sebaiknya diperlakukan sebagai cerita rakyat, bukan sejarah yang ketat. Namun, pelajaran yang disampaikannya—jangan mengganggu hewan yang sedang beristirahat tanpa alasan—sejalan dengan ajaran yang telah terverifikasi.

Nabi membiarkan kucing berkeliaran bebas di rumahnya, menyatakan bahwa mereka "tidak najis; mereka bercampur dengan kalian" (Abu Dawud 75), dan bahkan berwudhu dengan air yang telah diminum kucing. Karena itu, kitab fiqih menganggap kucing sebagai hewan yang suci secara ritual. Untuk masyarakat gurun yang kekurangan air dan takut akan penyakit zoonosis, ketentuan ini sangat lunak dan menunjukkan ketidaksukaan Nabi terhadap penderitaan yang tidak perlu, baik untuk manusia maupun hewan.

Saat ini, tempat penampungan hewan dan organisasi penyelamat Muslim sering mengutip tradisi tentang kucing saat berkampanye menentang penelantaran hewan peliharaan. Dengan mengenali rantai sanad yang lemah di balik kisah Muezza sambil tetap memegang prinsip hukum yang kuat yang mendasarinya, umat Muslim menjaga kejujuran intelektual dan menegaskan kembali kelembutan Nabi terhadap makhluk kecil yang rentan.

2. Al-Qaswa - Unta yang Memilih Kota

Hewan yang membawa Nabi dalam hijrah bersejarahnya dari Makkah ke Madinah adalah unta betina bernama al-Qaswa. Dibeli seharga empat ratus dirham perak, ia menolak semua tarikan tali kekang saat para muhajirin mencapai Yatsrib; sebaliknya, ia berlutut di sebidang tanah kosong milik dua anak yatim. Nabi menafsirkan tindakannya sebagai petunjuk ilahi dan membangun masjidnya di tempat tersebut.

Al-Qaswa ikut serta dalam perang Badar, Uhud, dan Haji Wada. Beberapa hadits sahih menggambarkan Nabi membelai lehernya saat ia lelah dan menegur sahabat yang bersikap kasar terhadap unta. Al-Quran sendiri mengajak merenungkan "bagaimana unta diciptakan" (Q 88:17), menempatkan spesies ini di pusat tanda-tanda ilahi dalam alam.

Dari kisah unta ini, kita dapat mengambil tiga pelajaran etis. Pertama, mobilitas dalam mengejar kebenaran—baik fisik maupun intelektual—sering bergantung pada perlakuan manusiawi terhadap "kendaraan" yang membawa kita. Kedua, keputusan yang tampaknya "dibuat oleh hewan" (unta yang berlutut) mungkin mengandung hikmah yang lebih tinggi. Ketiga, bahkan hewan pekerja layak mendapatkan nama, kisah, dan kasih sayang; al-Qaswa bukan tunggangan sembarangan tetapi sahabat dengan tempatnya sendiri dalam kenangan kenabian.

3. Kuda - Kebaikan yang Terikat pada Jambulnya

Sahih al-Bukhari dan Muslim sama-sama mencatat sabda terkenal: "Kebaikan terikat pada jambul kuda hingga Hari Kiamat." Para komentator menjelaskan bahwa "kebaikan" mencakup manfaat duniawi langsung (kecepatan, ketahanan, keindahan) dan pahala spiritual abadi ketika kuda disiapkan untuk tujuan mulia.

Nabi memiliki beberapa kuda—di antaranya al-Sakb ("Yang Mengalir") dan al-Murtajiz ("Yang Menggelegar")—dan beliau mendorong pembiakan yang bertanggung jawab. Ia melarang merusak wajah kuda, membebani secara berlebihan, atau menahan makanannya. Hadits dari Ibnu Abbas tentang keledai yang dicap di wajahnya (lihat bagian berikutnya) juga sering diterapkan pada kuda.

Penunggang kuda Muslim masa kini merujuk pada narasi ini untuk mempromosikan pelatihan yang etis, menghindari praktik yang menyakiti hanya demi tontonan. Hubungan kenabian antara "Kebaikan" dan "Kuda" juga mengundang refleksi lebih luas terhadap teknologi: apa pun "kendaraan" yang menggerakkan peradaban saat ini—mobil, algoritma, atau tenaga kuda secara harfiah—harus dimanfaatkan secara etis untuk meraih ridha, bukan murka ilahi.

4. Keledai Bernama Yafur - Suara dari yang Rendah

Sejumlah laporan awal menyebutkan keledai yang berkata, "Aku adalah Yafur, yang terakhir dari garis keturunan yang melayani para nabi sebelumnya," sebelum menawarkan diri kepada Muhammad. Rantai periwayatannya lemah, dan sebagian besar ulama menganggap kisah keledai yang bicara ini sebagai peringatan, bukan sejarah literal. Meski begitu, teks sahih tetap mencatat kepedulian Nabi terhadap keledai.

Saat beliau melewati seekor keledai yang dicap di wajahnya, ia berkata, "Semoga Allah melaknat orang yang mencapnya," dan melarang memukul atau menandai wajah hewan mana pun (Sahih Muslim 2117). Ia juga melarang makan daging keledai di Khaybar—sebuah ketentuan yang banyak ulama kaitkan dengan peran hewan tersebut sebagai pembantu, bukan ternak konsumsi. Al-Qur’an, dalam Surah Luqman, menyamakan ucapan menjengkelkan dengan "suara paling menjijikkan—ringkikan keledai" (Q 31:19), mengingatkan bahwa penyalahgunaan lisan merendahkan penutur sebagaimana kekejaman merendahkan penunggang.

Dalam konteks modern—dari membebani keledai di pabrik batu bata hingga retorika online yang menyakitkan—pandangan kenabian terhadap keledai menantang Muslim untuk mengangkat suara yang lemah dan melunakkan “ringkikan” mereka sendiri. Kesucian diukur bukan dari status, tetapi dari kasih sayang.

5. Kambing dan Domba - Susu Kerendahan Hati

Sebelum kenabian, Muhammad adalah seorang penggembala, dan ia kemudian berkata, "Setiap nabi yang Allah utus adalah penggembala domba" (Bukhari 3406). Salah satu kisah paling menyentuh dalam hijrah menampilkan tenda Umm Ma'bad. Dilanda kekeringan, kambingnya tidak menghasilkan susu; dengan izinnya, Nabi mengusap sisi kambing, memohon kepada Allah, dan ambingnya pun penuh hingga semua yang hadir minum dan masih tersisa untuk keluarga.

Di luar kisah mukjizat tersebut, kambing mewakili rezeki yang diperoleh dengan kerja lembut. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa Nabi akan menjahit sandalnya dan "memerah susu kambingnya" meski memimpin sebuah komunitas (Shamail Muhammadiyyah). Hadits dari Ma'qil ibn Yasar menyebut bahwa saat ia merasa kasihan pada kambing yang akan ia sembelih, Nabi memujinya dan meyakinkannya bahwa Allah Maha Penyayang terhadap yang penyayang.

Bagi Muslim modern, narasi ini menghidupkan kembali peternakan kecil yang etis di tengah dominasi pertanian industri. Mereka juga menekankan keterampilan manual dan kemandirian, sambil mengingatkan bahwa rezeki berasal dari Allah, bukan dari praktik yang eksploitatif.

Rahmat sebagai Prinsip Universal

Di balik setiap kisah di atas terdapat prinsip utama yang dinyatakan dalam hadits sahih: "Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia." Para ahli fikih menarik ketentuan hukum konkret—tidak boleh mencap wajah, tidak boleh membuat kelaparan, tidak boleh berburu hanya untuk hiburan—dari fondasi etis tersebut. Para guru spiritual melangkah lebih jauh, mendorong umat untuk membangun imajinasi empatik: jika keluhan lelah seekor unta pernah mengubah pusat geografis Islam, mungkin pilihan kita juga harus dimulai dengan mendengarkan sinyal halus dari dunia hidup.

Para ekolog sekarang memperingatkan bahwa penggunaan antibiotik secara berlebihan di peternakan industri menghasilkan "superbug", sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa hilangnya habitat mempercepat penyebaran penyakit zoonosis. Model kenabian menawarkan narasi berbeda: muliakan hewan, batasi eksploitasi, ambil hanya yang dibutuhkan, dan bumi akan menghasilkan barakah (berkah). Dalam pengertian ini, lima hewan “favorit” tersebut adalah perumpamaan hidup yang relevansinya semakin besar di tengah krisis lingkungan masa kini.

Kategori Kehidupan

Tinggalkan Komentar

Harap jangan menggunakan nama bisnis Anda untuk berkomentar.