Abu Dzarr al-Ghifari

Abu Dzarr al-Ghifari
Oleh Who Muhammad Is Tim
| Komentar

Pengenalan Abu Dzarr al-Ghifari dan Nasabnya

Pendapat yang paling terkenal menyebutkan bahwa nama asli Abu Dzarr al-Ghifari adalah Jundub bin Junadah bin Qays bin ‘Amr bin Malil bin Sa’ir bin Haram, dari suku Banu Ghifar, dan ini dianggap sebagai versi yang paling sahih. Namun, ada beberapa nama lain yang juga dinisbahkan kepadanya: sebagian mengatakan namanya Burayr bin Abdullah, yang lain mengatakan Burayr bin Junadah, Barirah bin Ashriqah, Jundub bin Abdullah, atau Jundub bin Sakan.

Riwayat lain menyebutkan nasab lengkapnya sebagai Jundub bin Junadah bin Sufyan bin Ubayd bin Haram bin Ghifar bin Malil bin Dumrah bin Bakr bin ‘Abd Manat bin Kinanah bin Khuzaymah bin Mudrikah dari suku Ghifar. Ibunya adalah Ramlah binti al-Waqi’ah al-Ghifariyyah, dan kedua orang tuanya berasal dari suku Ghifar, yang merupakan cabang dari Banu Kinanah.

Masuk Islamnya Abu Dzarr

Sebelum masuk Islam, Abu Dzarr dikenal sebagai perampok jalanan dan sangat pemberani. Ketika ia mendengar tentang Islam, ia pergi ke Mekah untuk bertemu Nabi Muhammad ﷺ, karena hatinya sudah tersentuh oleh cahaya iman. Menariknya, bahkan sebelum memeluk Islam, ia sudah berdoa kepada Tuhan dan berkata bahwa ia menyembah "Tuhan langit", dan berdoa menghadap ke arah yang ia rasa ditunjukkan oleh Tuhan. Ia sudah beribadah seperti itu selama empat tahun sebelum masuk Islam.

Sebelum pergi sendiri kepada Nabi, Abu Dzarr mengutus saudaranya untuk menyelidiki pesan Muhammad. Setelah kembali, saudaranya melaporkan bahwa Muhammad menyeru kepada akhlak mulia. Namun, Abu Dzarr masih merasa belum puas, sehingga ia pergi sendiri dan bertemu dengan Nabi, yang kemudian mengajaknya masuk Islam—dan ia pun menerima ajakan tersebut. Nabi lalu memerintahkannya kembali kepada kaumnya, seraya berkata: "Kembalilah ke kaummu dan sampaikan kepada mereka sampai datang perintah dariku." Namun Abu Dzarr bersikeras untuk menyatakan keislamannya secara terbuka di hadapan Quraisy, dan berkata: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku akan meneriakkan ini di tengah-tengah mereka!"

Ia pun mendeklarasikan keislamannya secara terbuka, dan Quraisy memukulinya hingga Abbas campur tangan dan memperingatkan mereka bahwa Abu Dzarr berasal dari suku Ghifar. Keesokan harinya, ia mengulangi hal yang sama dan kembali dipukuli hingga Abbas menghentikan mereka lagi. Abu Dzarr dianggap sebagai salah satu orang pertama yang masuk Islam—bahkan ada yang mengatakan bahwa ia adalah orang keempat yang memeluk Islam. Ia kemudian kembali ke kaumnya hingga Nabi hijrah ke Madinah. Saat Abu Dzarr menyusul, Perang Badar, Uhud, dan Khandaq telah berlalu, sehingga ia tidak ikut serta.

Abu Dzarr sebagai Da’i Islam

Abu Dzarr secara aktif menyeru orang kepada Islam. Dalam riwayat yang sahih, disebutkan bahwa ia mengajak saudaranya Anis dan kemudian ibunya untuk masuk Islam. Setelah itu, ia mulai berdakwah kepada kaumnya. Ia berkata:

"Kami kembali hingga sampai ke kaum kami, Ghifar. Separuh dari mereka masuk Islam, dipimpin dalam shalat oleh Aymā’ bin Rahadah al-Ghifari, pemimpin mereka. Separuh lainnya berkata: 'Jika Rasulullah telah tiba di Madinah, kami akan masuk Islam.' Dan ketika Nabi tiba di Madinah, separuh lainnya pun masuk Islam."

Sifat Fisik dan Moral Abu Dzarr

Sifat Fisik

Abu Dzarr adalah seorang pria yang tinggi dengan tubuh kurus, meski beberapa riwayat menyebut ia berbadan besar. Kulitnya gelap, rambut dan janggutnya putih, dan janggutnya lebat.

Sifat Moral

Abu Dzarr dikenal karena ilmunya yang dalam—bahkan ada yang menyamakannya dengan Abdullah bin Mas’ud. Ia tidak takut mengatakan kebenaran dan senantiasa memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ia dikenal jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Nabi ﷺ bersabda tentangnya:

"Bumi tidak membawa dan langit tidak menaungi seseorang yang lebih jujur dan setia dari Abu Dzarr, yang menyerupai Isa bin Maryam."

Ia juga dikenal sebagai seorang zahid (asketik). Ia memandang kecintaan dunia sebagai ujian dan menganggap menjauhinya sebagai nikmat. Ia pernah berjanji akan hidup dalam kezuhudan hingga bertemu Allah.

Meski berani, Nabi ﷺ pernah menasihatinya: "Wahai Abu Dzarr, aku melihatmu lemah, dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Jangan memimpin atas dua orang, dan jangan mengelola harta anak yatim." Para ulama menafsirkan ini sebagai bentuk kasih sayang Nabi terhadap Abu Dzarr, karena ia tidak suka menyimpan harta dan akan cenderung menginfakkannya tanpa pertimbangan prioritas.

Abu Dzarr dididik secara langsung oleh Nabi karena ia termasuk orang yang awal masuk Islam dan sering mendampingi beliau. Nabi mengajarinya segala sesuatu yang diturunkan oleh Jibril dan Mikail, termasuk dzikir setelah shalat agar mendapatkan pahala seperti orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah:

"Bertasbihlah kepada Allah setelah setiap shalat sebanyak 33 kali, pujilah Dia 33 kali, dan bertakbirlah 33 kali, lalu akhiri dengan: 'La ilaha illallah, wahdahu la sharika lah, lahul-mulk walahul-hamd, wahuwa ‘ala kulli shay’in qadeer'."

Peristiwa Penting dalam Kehidupan Abu Dzarr

Abu Dzarr banyak berkorban demi Islam. Ia adalah salah satu sahabat pertama yang membaca Al-Qur’an dengan lantang di Mekah. Ia turut menyaksikan berbagai peristiwa bersama Nabi dan membawa panji dalam Perang Hunain. Ia juga yang pertama mengucapkan salam Islam kepada Nabi, berkata:

"Assalamu ‘alaika ya Rasulullah,"

yang dijawab Nabi:

"Wa ‘alaika wa rahmatullah."

Ia termasuk orang merdeka yang melayani Nabi dengan penuh ketulusan.

Ucapan Terkenal Abu Dzarr

  • Tentang meninggalkan dunia: "Wahai manusia, aku menasihati kalian dengan tulus. Shalatlah di malam hari untuk mengusir kesunyian kubur. Berpuasalah di dunia untuk terhindar dari panas hari kebangkitan. Bersedekahlah karena takut akan beratnya hari perhitungan."
  • Tentang kezuhudan: "Zuhud bukanlah dengan mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, tetapi dengan mempercayai apa yang ada di tangan Allah lebih daripada yang di tanganmu. Dan engkau lebih mengharapkan pahala dari musibah dibanding berharap agar musibah itu tidak terjadi."
  • Tentang harta: "Orang yang memiliki dua dirham akan menghadapi hisab yang lebih berat pada hari kiamat dibanding orang yang memiliki satu dirham."

Wafatnya Abu Dzarr al-Ghifari

Abu Dzarr menghabiskan hari-hari terakhirnya menyendiri di tempat bernama al-Rabadha. Ketika tanda-tanda kematian mulai tampak, istrinya menangis karena mereka tidak memiliki kafan dan tidak ada orang untuk membantu. Abu Dzarr menghiburnya, mengingatkan akan janji Nabi bahwa ia akan wafat di tempat terpencil namun sekelompok orang beriman akan menyaksikan kematiannya.

Ia menyuruh istrinya mengawasi jalan. Saat ia melakukannya, datanglah sekelompok musafir. Ia memberi isyarat kepada mereka, dan ketika mereka tahu itu adalah sahabat Nabi, mereka sangat terharu. Mereka memberi salam kepadanya, dan ia menyambut mereka dengan hangat, menyampaikan pesan Nabi, serta meminta agar tidak ada dari mereka yang memiliki jabatan (seperti gubernur atau pemimpin) yang mengkafaninya. Seorang dari kaum Anshar mengkafaninya dengan dua kain dan salah satu pakaiannya. Ia dimakamkan oleh rombongan itu, termasuk Hujr bin ‘Adi dan Malik al-Asytar. Abu Dzarr wafat pada tahun 32 H (sekitar tahun 652 M).

Kategori Sahabat

Tinggalkan Komentar

Harap jangan menggunakan nama bisnis Anda untuk berkomentar.