Bagaimana Umar bin Khattab Meninggal?
Pembunuhan Umar oleh Abu Lu’lu’ah Feroz
Diriwayatkan dalam kisah pembunuhan Umar bin Al-Khattab – semoga Allah meridainya – bahwa beliau memanggil orang-orang untuk salat Subuh dan sedang memimpin salat tersebut. Ia memulai dengan rakaat pertama salat sunnah, membaca Surah Yusuf – dan ada yang mengatakan Surah An-Nahl – sampai jamaah berkumpul. Ketika beliau masuk sebagai imam salat Subuh, Abu Lu’lu’ah menyerangnya dan menikam Umar bin Al-Khattab, lalu melarikan diri sambil menikam setiap Muslim yang dilewatinya di shaf masjid. Umar bin Al-Khattab mengatur keadaan dengan meminta Abdur Rahman bin Auf melanjutkan salat sebagai imam.
Setelah salat selesai, Umar memerintahkan Abdullah bin Abbas untuk mencari tahu siapa yang telah membunuhnya, dan diketahui bahwa pelakunya adalah budak milik Mughirah, yaitu Abu Lu’lu’ah Feroz. Umar kemudian bersyukur kepada Allah karena kematiannya tidak disebabkan oleh tangan seorang Muslim.
Mengapa Abu Lu’lu’ah Membunuh Umar?
Umar – semoga Allah meridainya – biasa melarang para mawali (Muslim non-Arab) masuk ke Madinah. Mughira menulis surat kepada Umar untuk meminta izin membawa salah satu budaknya yang ahli dan akan bermanfaat bagi penduduk kota. Umar memberikan izin tersebut. Setelah Abu Lu’lu’ah datang, ia mengeluh kepada Umar tentang sedikitnya uang yang diterimanya dan menjelaskan pekerjaan yang dilakukannya. Umar memberikan jawaban yang adil sesuai dengan kompensasi atas pekerjaan yang dilakukannya.
Namun, Abu Lu’lu’ah marah terhadap jawaban Umar dan, setelah beberapa hari, ia membuat belati bermata dua yang digunakannya untuk menikam Umar. Ia pernah berkata bahwa ia akan membuat "penggilingan" untuk Umar yang akan dikenang oleh orang-orang, yang ternyata merupakan isyarat dari rencana pembunuhannya terhadap Umar bin Al-Khattab – semoga Allah meridainya.
Wasiat Umar bin Al-Khattab Sebelum Wafat
Umar memberikan wasiat kepada khalifah setelahnya dengan petunjuk yang menyeluruh mencakup berbagai aspek, sebagai berikut:
- Aspek Agama: Ia menasihati untuk bertakwa kepada Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan, serta memerintahkan agar tidak melalaikan batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah.
- Aspek Militer: Ia menekankan pentingnya menjaga kekuatan pasukan Islam dan kesiapan menghadapi musuh, memperingatkan agar tidak terlalu lama menjauhkan para pejuang dari keluarga mereka untuk menjaga semangat mereka, menjaga kelangsungan keturunan mereka, dan memberikan kecukupan dari harta negara agar fokus mereka tetap pada pembelaan tanah air.
- Aspek Politik: Ia menyerukan keadilan terhadap rakyat, dengan menyatakan bahwa keadilannya menjadikannya dihormati oleh rakyat, serta menasihati agar memperlakukan dengan baik kaum Muhajirin dan Anshar yang telah meletakkan dasar sistem politik Islam dengan perjuangan mereka.
- Aspek Ekonomi: Ia menasihati agar harta negara dibagikan secara adil kepada rakyat dan memperingatkan untuk tidak membebani warga non-Muslim dengan kewajiban finansial yang tidak sanggup mereka tanggung.
- Aspek Sosial: Ia menekankan pentingnya memeriksa langsung kondisi rakyat, memenuhi kebutuhan mereka, bersikap rendah hati terhadap mereka, menghindari pilih kasih dalam pelayanan kepada rakyat, serta memperingatkan terhadap kezaliman kepada warga atau kepada warga non-Muslim.
Kesyahidan dan Pemakaman Umar
Umar bin Al-Khattab mengutus putranya, Abdullah, untuk meminta izin kepada Aisyah – semoga Allah meridai mereka – agar diizinkan dimakamkan di samping dua sahabatnya, Nabi Muhammad – shallallahu ‘alaihi wasallam – dan Abu Bakar. Aisyah awalnya bermaksud untuk dimakamkan di tempat itu sendiri, di samping suami dan ayahnya, tetapi ia mengutamakan Umar bin Al-Khattab atas dirinya sendiri dan memberikan izin, sehingga Umar dimakamkan di samping kedua sahabatnya.