Kisah Hidup Utsman bin Affan dan Pembunuhannya
Kekhalifahan Utsman bin Affan (semoga Allah meridainya) dianggap sebagai salah satu periode terpanjang dan paling penuh peristiwa di masa Khulafaur Rasyidin. Masa pemerintahannya menyaksikan ekspansi wilayah besar-besaran, kemakmuran ekonomi, dan pencapaian monumental seperti penyatuan mushaf Al-Qur’an. Namun, tahun-tahun terakhir kekuasaannya ditandai dengan konflik internal dan kekacauan politik, yang berpuncak pada kesyahidan tragisnya saat membaca Al-Qur’an di rumahnya sendiri.
Pengangkatannya Sebagai Khalifah
Setelah syahidnya Umar bin Al-Khattab (RA), dewan syura yang terdiri dari enam orang yang ditunjuk oleh Umar berkumpul untuk memilih khalifah berikutnya. Anggota-anggotanya termasuk Ali, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Sa’d, Talha, dan Utsman. Abdurrahman bin Auf berkonsultasi dengan masyarakat secara luas, dan mayoritas memilih Utsman karena ketakwaan, sifat rendah hati, dan kepemimpinannya. Ia diangkat sebagai khalifah pada bulan Muharram tahun 24 H.
Pencapaian Selama Masa Kekhalifahannya
1. Pengumpulan Mushaf Al-Qur’an
Utsman memerintahkan standarisasi mushaf Al-Qur’an karena munculnya perbedaan cara baca. Ia menunjuk Zaid bin Tsabit dan sahabat lainnya untuk menyusunnya dalam dialek Quraisy, kemudian mengirim salinannya ke seluruh wilayah Islam.
"Wahai Amirul Mukminin, selamatkan umat ini sebelum mereka berselisih tentang Kitab ini sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani." – Hudzaifah bin Al-Yaman
2. Ekspansi Militer dan Angkatan Laut
Kekaisaran Islam berkembang ke Armenia, Khurasan, Nubia, dan Afrika Utara. Utsman juga mendirikan armada laut Islam pertama bersama Muawiyah bin Abi Sufyan, yang meraih kemenangan dalam Perang Dzat as-Sawari melawan Bizantium.
3. Perluasan Masjid Nabawi
Utsman mendanai perluasan besar Masjid Nabawi dari kekayaannya sendiri dan sebelumnya telah membeli sumur Rumah sebagai wakaf bagi umat Islam.
Kepribadian dan Akhlaknya
- Rasa malu – “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun malu padanya?” – Nabi Muhammad ﷺ
- Kedermawanan – Ia membiayai seluruh pasukan Perang Tabuk
- Kesederhanaan dan ketakwaan – Hidup sederhana meskipun kaya
Ia digambarkan sebagai pria tinggi, berkulit cerah, berjanggut lebat, dan tampan.
Awal Mula Fitnah
Tahun-tahun akhir pemerintahan Utsman dirundung kekacauan politik yang dipicu oleh:
- Kecemburuan dan ambisi politik dari sebagian kelompok
- Abdullah bin Saba, sosok penipu yang memprovokasi pemberontakan
- Propaganda dan fitnah terhadap para gubernur yang ditunjuk Utsman
Meski menghadapi ancaman, Utsman menolak menggunakan kekerasan terhadap sesama Muslim, lebih memilih kedamaian daripada pertumpahan darah.
Siapa yang Membunuh Utsman?
Abdullah bin Saba memainkan peran utama dalam menghasut pemberontakan dengan berpura-pura mendukung Ali (RA). Delegasi dari Mesir, Kufah, dan Bashrah mengepung rumah Utsman dan menuntut ia turun. Meskipun para sahabat siap membelanya, ia menolak pertumpahan darah.
"Aku tidak ingin menghadap Tuhanku dengan darah seorang Muslim pun di tanganku." – Utsman bin Affan
Kesyahidan Utsman
Setelah lebih dari 40 hari pengepungan, para pemberontak menyerbu rumahnya pada 18 Dzulhijjah 35 H. Ia sedang berpuasa dan membaca Al-Qur’an saat diserang dengan pedang. Darahnya menetes ke halaman yang sedang ia baca:
"Maka Allah akan mencukupimu terhadap mereka. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 137)
Nama-nama Pembunuhnya:
- Al-Ghafiqi bin Harb
- Kinana bin Bishr
- Sawdan bin Hamran
- Abdullah bin Saba (sebagai dalang utama)
Dampak dari Pembunuhannya
- Persatuan umat Islam terguncang
- Perang saudara pertama (Fitnah) dimulai
- Era konflik politik antar sahabat pun dimulai
Penutup
Kekhalifahan Utsman bin Affan (RA) adalah masa kepemimpinan spiritual dan pencapaian luar biasa. Hidupnya dipenuhi pengabdian, pengorbanan, dan keikhlasan. Kesabarannya menghadapi fitnah dan penolakannya untuk melawan sesama Muslim menjadi pelajaran penting dalam sejarah Islam. Semoga Allah meridainya dan menempatkannya di surga tertinggi.