Thabit bin Qais
Thabit bin Qais adalah putra dari Tsa'labah bin Zuhair bin Imru' al-Qais bin Malik bin al-Harits bin al-Khazraj. Julukannya adalah Abu Muhammad. Ia memiliki suara yang lantang, yang membuatnya menjadi juru bicara kaum Anshar (pendukung Nabi Muhammad).
Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wasallam) bersaksi bahwa Thabit akan masuk surga. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah Anas bin Malik, anak-anaknya yaitu Muhammad, Isma'il, Qais, dan Abdurrahman bin Abi Laila, serta lainnya.
Keluarga Thabit bin Qais
Thabit bin Qais bin Syamas al-Anshari al-Khazraji, juga dikenal dengan kunyah Abu Abdurrahman, dan kadang disebut Abu Muhammad al-Madani, adalah juru bicara kaum Anshar dan Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wasallam).
Ibunya bernama Hind al-Ta'iyyah, meskipun beberapa sumber menyebutkan lain. Thabit memiliki beberapa anak yaitu Muhammad, Yahya, dan Abdullah, yang semuanya gugur dalam Peristiwa Hari al-Harrah. Hubungan keluarganya meluas melalui saudara seibunya, yaitu Abdullah bin Rawahah, seorang sahabat terkenal Rasulullah, dan 'Amrah binti Rawahah.
Thabit menikah dengan Jamilah, putri Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh terkenal di Madinah, dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak bernama Muhammad. Latar belakang keluarganya menghubungkannya dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam awal, dan garis keturunannya mencerminkan perpaduan antara afiliasi kesukuan yang kuat dan ikatan erat dengan para sahabat Rasulullah.
Karakteristik Thabit bin Qais
Thabit bin Qais dikenal karena ketakwaannya, kedermawanannya, kezuhudannya, keberaniannya, dan cintanya yang mendalam kepada Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wasallam). Ia juga dikenal karena sifat altruismenya dan kecintaannya untuk berinfak di jalan Allah. Suatu ketika, ia mengetahui ada seorang Muslim yang telah berpuasa selama tiga hari tanpa menemukan makanan untuk berbuka.
Thabit memerintahkan keluarganya untuk menjamu orang tersebut berbuka puasa. Ia meminta mereka mematikan lampu dengan sengaja agar tamu itu tidak merasa malu, dan berpura-pura makan agar tamu itu bisa makan dengan leluasa hingga kenyang tanpa sungkan.
Masuk Islamnya Thabit bin Qais
Thabit termasuk di antara orang-orang yang pertama masuk Islam di Yatsrib (Madinah). Hatinya terbuka kepada Islam setelah ia mendengarkan Mus'ab bin Umair melantunkan Al-Qur'an dengan suara yang indah dan menyentuh hati, dan ia sangat terkesan dengan bimbingan serta ajaran yang ia dengar.
Sikap Thabit bin Qais terhadap Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wasallam)
Ketika ayat berikut ini diturunkan:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata keras kepadanya sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya."
— [Al-Qur'an, 49:2]
Thabit menghindari menghadiri majelis Nabi, meskipun ia sangat mencintai dan merindukan beliau. Ketika Nabi Muhammad menyadari ketidakhadirannya, beliau mengutus seorang lelaki dari Anshar untuk memeriksa keadaannya. Lelaki itu menemukan Thabit sedang duduk sedih di rumahnya dengan kepala tertunduk. Ketika ditanya alasannya, Thabit menjelaskan bahwa karena suaranya keras, ia khawatir telah meninggikan suara di atas suara Nabi tanpa sadar, sehingga amalannya menjadi sia-sia dan ia menjadi penghuni neraka. Lelaki Anshar itu kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Nabi, dan Nabi memerintahkannya untuk kembali kepada Thabit dan menyampaikan bahwa ia bukan termasuk penghuni neraka, melainkan termasuk penghuni surga.
Kematian Thabit bin Qais
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika beliau menyeru kaum Muslimin untuk memerangi kaum murtad dan menghadapi pasukan Musailamah al-Kazzab di Yamamah, Thabit bin Qais ikut bergabung dalam barisan pejuang Muslim. Ia bertempur dengan gagah berani hingga akhirnya gugur sebagai syahid di medan perang.