Utbah bin Ghazwan

Utbah bin Ghazwan
Oleh Who Muhammad Is Tim
| Komentar

Biografi Utbah bin Ghazwan

Ia adalah Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahib, pemimpin mulia dan pejuang, Abu Ghazwan al-Mazini, sekutu Bani Abd Syams. Ia termasuk di antara orang pertama yang masuk Islam, berhijrah ke Habasyah, kemudian kembali dan berhijrah ke Madinah bersama Al-Miqdad.

Ia menyaksikan Perang Badar dan peperangan lainnya. Umar bin Al-Khattab mengangkatnya dalam penaklukan wilayah, di mana ia mendirikan kota Basra dan meraih banyak kemenangan. Ia dikenal tinggi dan tampan. Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) mempersaudarakannya dengan Abu Dujanah.

Kisah Masuk Islamnya Utbah bin Ghazwan

Ia adalah orang ketujuh dari tujuh orang pertama yang masuk Islam, membaiat Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan menantang Quraisy meski mereka memiliki kekuatan dan kemampuan untuk membalas.

Pada masa-masa awal dakwah Islam yang sulit dan penuh ketakutan, Utbah berdiri kokoh bersama saudara-saudaranya, menjadi sumber kekuatan bagi nurani manusia sepanjang masa.

Ketika Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah, Utbah ikut bersama para muhajirin. Namun, kerinduannya kepada Nabi membuatnya tidak betah, hingga ia menyeberangi daratan dan lautan kembali ke Mekah. Ia tinggal bersama Nabi hingga tiba waktu hijrah ke Madinah, lalu berhijrah bersama kaum Muslimin.

Pengaruh Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam Membentuk Karakter Utbah bin Ghazwan

Utbah sangat takut dunia akan merusak agamanya dan juga khawatir terhadap umat Islam. Ia mendorong mereka untuk hidup dalam qana'ah dan kesederhanaan.

Banyak yang mencoba membujuknya untuk mencari kekuasaan dan status, apalagi di negeri yang belum terbiasa dengan kepemimpinan zuhud seperti dirinya. Tetapi Utbah berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari menjadi besar di dunia kalian tetapi kecil di sisi Allah".

Melihat ketidakpuasan di wajah orang-orang karena ketegasannya, ia berkata: "Besok kalian akan melihat para penguasa setelahku".

Ciri-Ciri Utbah bin Ghazwan

1. Kecintaannya yang Besar terhadap Jihad dan Penyebaran Islam

Utbah memimpin pasukannya yang kecil menuju Al-Ubullah, tempat bangsa Persia berkumpul dengan kekuatan besar. Ia mengatur pasukannya, berdiri di garis depan sambil memegang tombak dan berseru, "Allahu Akbar! Allah telah menepati janji-Nya".

Tak lama setelah itu, kemenangan diraih; Al-Ubullah menyerah dan penduduknya terbebas dari tirani yang telah mereka alami. Allah benar-benar menepati janji-Nya!

2. Ketulusan yang Mendalam dalam Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Ketulusan ini membuatnya meninggalkan kenikmatan dunia dan lebih mengutamakan akhirat. Setelah diangkat kembali oleh Umar bin Al-Khattab, ia berdoa agar tidak lagi diberi jabatan kekuasaan.

Beberapa Peristiwa Utbah bin Ghazwan bersama Para Sahabat

Umar bin Al-Khattab mengutusnya untuk menaklukkan Al-Ubullah dan membersihkannya dari bangsa Persia yang menggunakannya sebagai titik serangan terhadap kekuatan Islam. Umar berkata: "Pergilah bersama pasukanmu ke negeri Arab yang paling jauh dan negeri Ajam yang paling dekat. Berjalanlah dengan berkah Allah. Ajaklah kepada Allah; siapa yang menjawab, terima. Siapa yang menolak, tawarkan jizyah. Jika menolak, lawan tanpa belas kasihan. Hadapi musuh dan bertakwalah kepada Allah Tuhanmu".

Utbah kemudian meminta izin kepada Umar untuk kembali setelah merasa diperlakukan kurang baik oleh Saad bin Abi Waqqas. Umar awalnya diam, namun setelah Utbah mendesak, Umar berkata: "Kenapa tidak mengakui kepemimpinan seorang Quraisy yang memiliki hubungan dengan Rasulullah?" Utbah menjawab: "Bukankah aku juga dari Quraisy? Bukankah Rasulullah bersabda: 'Sekutu suatu kaum adalah bagian dari mereka'?"

Akhirnya Utbah menolak untuk kembali, tetapi Umar bersikeras. Dalam perjalanan kembali, Utbah wafat. Masa pemerintahannya atas Basra hanya berlangsung enam bulan.

Beberapa Hadits yang Diriwayatkan oleh Utbah bin Ghazwan

Utbah bin Ibrahim bin Utbah bin Ghazwan meriwayatkan dari ayahnya, dari Utbah bin Ghazwan, bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah berkata kepada Quraisy: "Adakah di antara kalian yang bukan dari kalian?" Mereka menjawab: "Keponakan kami, Utbah bin Ghazwan." Rasulullah berkata: "Keponakan suatu kaum adalah bagian dari mereka, dan sekutu suatu kaum adalah bagian dari mereka."

Beberapa Ucapan Utbah bin Ghazwan

Khalid bin Umair meriwayatkan bahwa Utbah bin Ghazwan pernah berkata: "Wahai manusia, dunia telah memberitakan kepergiannya dan telah berpaling dengan cepat. Yang tersisa hanyalah sedikit, seperti sisa air di bejana. Kalian berada di tempat dari mana kalian akan berpindah, maka manfaatkan amal saleh yang ada di hadapan kalian. Aku berlindung kepada Allah dari menjadi besar dalam pandangan diriku sendiri namun kecil di hadapan Allah".

Ia menambahkan: "Demi Allah, kalian akan melihat para penguasa setelahku. Kenabian selalu diikuti dengan kerajaan dan tirani. Aku mengingat diriku bersama Rasulullah sebagai salah satu dari tujuh orang yang hanya makan daun-daunan hingga mulut kami terluka. Aku menemukan sehelai kain, membaginya dua, setengahnya aku berikan kepada Saad bin Malik dan setengahnya aku pakai. Kini, tidak ada dari ketujuh orang itu yang masih hidup kecuali mereka menjadi pemimpin di suatu wilayah."

Ia juga berkata: "Celakalah batu yang dilemparkan dari puncak Neraka Jahanam, jatuh selama tujuh puluh tahun musim gugur hingga sampai ke dasarnya. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, Jahanam akan dipenuhi! Apakah kalian heran? Jarak antara dua pintu surga adalah perjalanan empat puluh tahun, namun suatu hari akan datang di mana tidak ada lagi ruang karena sesaknya manusia."

Wafatnya Utbah bin Ghazwan

Ketika musim haji tiba, Utbah menunjuk pengganti di Basra dan berangkat berhaji. Setelah selesai, ia menuju Madinah dan meminta kepada Khalifah untuk melepaskannya dari jabatan.

Namun Umar bin Al-Khattab, yang sangat menghargai pemimpin yang zuhud, menolak dan berkata: "Kalian menggantungkan amanah di pundakku, lalu kalian meninggalkanku? Tidak, demi Allah, aku tidak akan membiarkan kalian!"

Utbah pun tidak punya pilihan selain taat. Sebelum menaiki untanya untuk kembali ke Basra, ia menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan berdoa agar tidak dikembalikan ke Basra atau ke jabatan lagi. Doanya dikabulkan, dan dalam perjalanan kembali, ia wafat.

Ia meninggal dunia dalam keadaan ridha atas pengorbanannya, kezuhudannya, dan balasan yang telah Allah siapkan baginya.

Utbah wafat di jalan menuju Basra dalam perjalanan pulang ke Madinah pada tahun 17 Hijriah, meski ada yang mengatakan pada tahun 15 Hijriah, dalam usia 57 tahun (semoga Allah meridhainya).

Kategori Sahabat

Tinggalkan Komentar

Harap jangan menggunakan nama bisnis Anda untuk berkomentar.