Halimah as-Sa’diyyah

Halimah as-Sa’diyyah
Oleh Who Muhammad Is Tim
| Komentar

Nasab Halimah as-Sa’diyyah

Halimah adalah putri dari Abu Dhu'ayb, yang bernama Abdullah bin al-Harith bin Shijna bin Rizam bin Nadhira bin Sa’d bin Bakr bin Hawazin. Suku Banu Sa’d, tempat asal Halimah as-Sa’diyyah, terletak sekitar 70 kilometer di selatan kota Tha’if. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa suku ini terletak di sebelah timur Makkah.

Keislaman Halimah as-Sa’diyyah

Para ulama sebagian besar sepakat bahwa Halimah as-Sa’diyyah masuk Islam, pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama. Mereka menyatakan bahwa dia dan suaminya masuk Islam dan dianggap sebagai sahabat Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Abu al-Qasim at-Tabarani menyebut namanya dalam kumpulan wanita yang meriwayatkan hadits dari Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Hafiz Ibn al-Jauzi juga menyebutnya dalam buku-bukunya tentang sahabat perempuan.

Dalam bukunya Al-Hada’iq, Ibn al-Jauzi menulis:

"Halimah, putri al-Harith, datang kepada Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) setelah beliau menikah dengan Khadijah dan mengadu kepadanya tentang kekeringan di daerah mereka. Nabi berbicara kepada Khadijah, yang kemudian memberikan empat puluh ekor kambing dan seekor unta kepadanya. Kemudian, ia datang kembali setelah kenabian, masuk Islam, berbaiat, dan suaminya al-Harith juga masuk Islam."

Dia juga disebutkan dalam Al-Isabah dan kitab-kitab sahabat lainnya oleh Abu Nu’aym, Ibn Mandah, dan ulama lainnya.

Kisah Halimah as-Sa’diyyah dengan Nabi

Halimah Membawa Nabi untuk Disusui

Halimah as-Sa’diyyah menceritakan kisah bagaimana ia mulai merawat Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Ia pergi ke Makkah, tetapi sebelum kedatangannya, banyak ibu susuan lainnya telah datang lebih dulu. Para ibu susuan ini lebih suka mengambil anak-anak yang memiliki ayah agar mereka mendapat balasan yang lebih baik. Setiap kali seorang ibu susuan mendekati Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan mengetahui bahwa beliau yatim, mereka enggan mengambilnya.

Ketika Halimah dan suaminya tiba di Makkah, mereka kelelahan dan kelaparan, tanpa memiliki sesuatu untuk bertahan hidup. Ia tidak menemukan anak lain untuk disusui, sehingga ia tidak ingin meninggalkan Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) sendirian karena yatimnya. Maka, ia mengambilnya dari ibunya, Aminah, dan kembali ke rumah mereka.

Tak lama kemudian, seperti yang diceritakan oleh Halimah, ternak mereka mulai penuh dengan susu. Air susu di payudaranya juga mulai mengalir deras, dan Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) minum hingga kenyang. Ia juga menyusui putranya sendiri, dan malam itu, mereka tidur dengan perut kenyang, merasakan berkah dengan kehadiran Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) bersama mereka.

Masa Kecil Nabi di Rumah Halimah

Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) menghabiskan tahun-tahun awalnya di gurun Banu Sa’d, di mana Halimah menyusuinya. Beliau tumbuh menjadi anak yang kuat, fasih berbicara, dan sehat.

Pada usia empat tahun, terjadi suatu peristiwa luar biasa saat beliau sedang menggembala kambing dan bermain dengan teman-temannya. Dua orang pria mendekatinya, membelah dadanya, dan mengeluarkan jantungnya. Mereka kemudian mencucinya dengan air dingin, es, dan hujan es. Kedua pria itu adalah malaikat Jibril dan Mika’il (alaihimassalam), yang membersihkan dan menyucikan hatinya dengan air Zamzam. Kemudian, mereka menutup punggungnya dengan Khatamun Nubuwwah (Segel Kenabian) dan menjahitnya kembali dengan izin Allah.

Halimah as-Sa’diyyah sangat ketakutan terhadap Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Anak-anak yang bersamanya berlari untuk memberitahunya tentang apa yang terjadi. Ia khawatir bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam), sehingga dengan cepat ia mengembalikannya kepada ibunya, Aminah. Namun, Aminah tidak panik atau takut setelah mendengar cerita itu. Ia tetap tenang, meyakini bahwa putranya ditakdirkan untuk sesuatu yang besar, terutama setelah penglihatan yang dialaminya pada malam kelahiran Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam).

Kesetiaan Nabi kepada Halimah as-Sa’diyyah

Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) selalu mengenang jasa Halimah as-Sa’diyyah dan menunjukkan kesetiaannya kepadanya. Beliau memiliki tempat khusus di hatinya untuk Halimah.

Salah satu bukti kesetiaan ini adalah ketika saudari Halimah datang kepadanya pada hari Fathu Makkah (Penaklukan Makkah). Beliau bertanya kepadanya tentang Halimah, dan dia memberi tahu bahwa Halimah telah meninggal dunia. Mata Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) pun berlinang air mata, dan beliau memerintahkan agar saudari Halimah diberi pakaian baru dan 200 dirham. Saat ia pergi, ia berkata, "Engkau benar-benar anak yang baik, baik di masa kecil maupun saat dewasa."

Kesetiaan Nabi kepada Anak-anak Halimah

Salah satu bentuk kesetiaan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) juga tampak saat kaum Muslimin memperoleh harta rampasan perang setelah kemenangan atas suku Hawazin dalam Perang Hunain. Di antara tawanan perang tersebut adalah al-Syaima’, putri al-Harith, yang merupakan putri Halimah as-Sa’diyyah. Ia dibawa ke hadapan Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam), yang menyambutnya dengan hangat dan mendudukkannya di atas jubahnya.

Beliau kemudian memberinya pilihan antara tinggal bersamanya dalam keadaan mulia atau kembali ke kaumnya. Ia memilih untuk kembali ke kaumnya, masuk Islam, dan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) memberinya penghormatan yang luar biasa.

Kategori Kerabat

Tinggalkan Komentar

Harap jangan menggunakan nama bisnis Anda untuk berkomentar.