Ibu Susuan Nabi Muhammad

Masa kecil Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam) ditandai dengan perawatan dan kasih sayang dari beberapa ibu susuan. Artikel ini membahas para wanita yang menyusui beliau, latar belakang mereka, dan pengaruh mereka terhadap masa kecilnya. Dari ibunya, Amina, hingga Halimah al-Sa’diyyah, setiap wanita memainkan peran penting dalam tahun-tahun awal kehidupan beliau. Kami juga menyoroti peristiwa terkenal Pembelahan Dada serta menjelaskan peran Ummu Aiman sebagai pengasuh, bukan ibu susuan.
Ibunya, Amina binti Wahb
Wanita pertama yang menyusui Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa sallam) adalah ibunya, Amina binti Wahb, putri Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah, dan istri Abdullah bin Abdul Muttalib. Amina hanya menyusui Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa sallam) selama beberapa hari, dan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) tidak memiliki saudara kandung dari ibunya, karena ia tidak melahirkan anak lain.
Thuwaybah, Budak Paman Nabi, Abu Lahab
Setelah itu, budak perempuan paman beliau, Abu Lahab, menyusui Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) selama beberapa hari juga. Namanya adalah Thuwaybah al-Aslamiyyah, dan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) memiliki saudara sesusuan darinya, yaitu:
- Masruh, putra Thuwaybah, yang disusui bersama Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam).
- Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Nabi, yang disusui oleh Thuwaybah sebelum Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Rasulullah pernah berkata tentang putri Hamzah: “Dia adalah putri saudaraku melalui persusuan.”
- Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi, yang juga disusui oleh Thuwaybah setelah Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Hal ini diperkuat oleh perkataan Nabi tentang putri Abu Salamah: “Dia adalah putri saudaraku melalui persusuan. Thuwaybah menyusui aku dan Abu Salamah.”
Halimah binti Abi Dhu'ayb al-Sa’diyyah
Halimah binti Abdullah bin al-Harith bin Sa’d bin Bakr bin Hawazin adalah salah satu ibu susuan paling terkenal dari Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam). Ia adalah istri dari al-Harith bin Abdul Uzza, dan ia menyusui Nabi hingga beliau menyelesaikan masa penyusuan sepenuhnya.
Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) memiliki saudara sesusuan dari ibu susunya, Halimah, yang bernama Abdullah bin al-Harith bin Abdul Uzza, yang juga disusui bersamanya. Ia juga memiliki dua saudari sesusuan dari Halimah, yaitu al-Syaima’ dan Anisah.
Halimah dan suaminya adalah orang miskin, tetapi begitu Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) bergabung dengan keluarga kecil mereka, berkah mulai turun kepada mereka. Beberapa berkah tersebut meliputi:
- Air susu di payudaranya, yang sebelumnya tidak cukup untuk putranya, mulai mengalir deras, sehingga mencukupi untuk Nabi dan putranya Abdullah.
- Unta tua yang mereka miliki menjadi penuh dengan susu, memungkinkan Halimah dan suaminya minum sampai kenyang.
- Domba-domba mereka, yang sebelumnya kembali dari padang rumput dalam keadaan lapar, mulai pulang dalam keadaan kenyang dan penuh susu, meskipun saat itu terjadi kekeringan.
Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) tetap tinggal bersama Halimah setelah masa penyusuan selesai, sampai peristiwa "Pembelahan Dada" terjadi. Dalam peristiwa ini, dua malaikat turun dalam bentuk dua burung putih. Mereka membaringkan Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) ke tanah, membelah perutnya, mengeluarkan hatinya, dan menghilangkan dua gumpalan hitam dari dalamnya. Kemudian, mereka mencuci dadanya dengan es dan hatinya dengan air dingin, sebelum memasukkan ketenangan ke dalamnya dan menjahitnya kembali.
Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) memberitahukan kepada ibu susunya, Halimah, tentang apa yang terjadi, dan ia pun mengembalikan Nabi kepada ibunya.
Seorang Wanita dari Bani Sa’d yang Menyusui Hamzah
Ibu susuan keempat Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) adalah seorang wanita dari Bani Sa’d, selain Halimah al-Sa’diyyah. Saat itu, ia sedang menyusui paman beliau, Hamzah (radhiyallahu ‘anhu), sehingga ia juga menyusui Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) bersamanya.
Dengan demikian, Hamzah (radhiyallahu ‘anhu) menjadi saudara sesusuan Nabi dua kali—sekali melalui Thuwaybah dan sekali melalui wanita dari Bani Sa’d.
Ummu Aiman: Bukan Ibu Susuan, tetapi Pengasuh
Penting untuk dicatat bahwa Ummu Aiman bukanlah salah satu ibu susuan Nabi; melainkan, ia adalah pengasuh beliau. Namanya adalah Barakah al-Habasyiyyah.
Ia adalah mantan pelayan Abdullah, ayah Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam), dan menjadi pelayan Nabi setelah ayahnya wafat. Kemudian, Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) membebaskannya setelah menikahi Khadijah binti Khuwailid. Setelah kenabian, beliau menikahkannya dengan Zaid, dan mereka dikaruniai putra bernama Usamah bin Zaid.
Kesimpulan
Artikel ini membahas ibu susuan Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa sallam), termasuk silsilah mereka, suami mereka, dan saudara-saudara sesusuan Nabi. Kami juga mengulas kejadian-kejadian penting selama masa penyusuan Nabi, seperti berkah yang beliau bawa serta peristiwa Pembelahan Dada. Artikel ini juga menegaskan bahwa Ummu Aiman hanyalah pengasuh Nabi dan bukan ibu susuan beliau.