Semua Khala (Bibi ) Nabi Muhammad

Para bibi (khala) Nabi Muhammad ﷺ, baik dari jalur nasab maupun persusuan, menempati kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Meski tidak banyak dikenal luas, wanita-wanita mulia ini memiliki peran penting dan menjadi teladan keutamaan serta pengabdian di awal sejarah Islam. Artikel ini akan membahas nasab, signifikansi sejarah, serta keutamaan mereka, sekaligus memberikan wawasan mendalam tentang hubungan keluarga Rasulullah ﷺ.
Berapa Jumlah Khala (Bibi) Nabi Muhammad dari Jalur Nasab?
Sebagian ulama menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memiliki dua bibi dari jalur nasab, yaitu Fakhitah dan Al-Furai'ah.
1. Fakhitah binti Amr az-Zuhriyyah
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa beliau adalah "khala (bibi dari pihak ibu) Nabi ﷺ," sebagaimana juga disebutkan oleh Abu Nu'aim dan Abu Musa. Tidak banyak informasi tentang beliau di kitab-kitab sirah, kecuali satu hadis lemah dari Jabir bin Abdullah yang mengatakan:
"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Aku telah menghadiahkan seorang budak kepada bibiku, Fakhitah binti Amr, dan aku memerintahkannya agar tidak menjadikannya tukang jagal, tukang emas, atau tukang bekam.'"
2. Al-Furai'ah binti Wahb az-Zuhriyyah
Beliau disebutkan oleh Ibnu Hibban dan ulama lainnya. Seperti halnya Fakhitah, tidak banyak informasi tentang beliau kecuali satu riwayat lemah yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengangkat tangannya seraya bersabda:
"Siapa yang ingin melihat khala (bibi dari pihak ibu) Rasulullah, maka lihatlah wanita ini."
Berapa Jumlah Khala (Bibi) Nabi Muhammad dari Jalur Susuan?
Para ulama menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah mengunjungi Ummu Haram dan saudarinya, Ummu Sulaim, karena keduanya adalah khala (bibi dari jalur susuan) beliau. Karena itu, keduanya halal untuk berkhalwat (berdua-duaan secara mahram) dengan Nabi ﷺ.
1. Ummu Haram
Nama lengkapnya adalah Ummu Haram binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam dari Madinah bersama suaminya, Ubadah bin ash-Shamit. Ummu Haram dikenal dengan keberanian, kecintaan pada jihad, ilmu yang luas, kebijaksanaan, dan kesalehannya. Beliau pernah meminta kepada Nabi ﷺ agar didoakan termasuk dalam golongan yang berjihad di lautan, lalu Nabi mendoakannya. Pada masa Khalifah Utsman dan pemerintahan Mu'awiyah, beliau ikut serta dalam jihad laut ke Pulau Siprus bersama suaminya. Ketika sampai di pulau tersebut, beliau terjatuh dari hewan tunggangannya dan wafat di sana pada tahun ke-27 Hijriah.
2. Ummu Sulaim
Para sejarawan berbeda pendapat tentang nama aslinya—ada yang menyebut Sahla, Rumailah, Rumaithah, atau Anifah. Namun, beliau lebih dikenal dengan kunyahnya, yaitu Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Haram al-Anshariyyah, ibu dari Anas bin Malik (radhiyallahu ‘anhu). Beliau adalah seorang sahabiyah mulia yang dijuluki Al-Ghumaishaa atau Ar-Rumaisaa. Awalnya, beliau menikah dengan Malik bin an-Nadhar (ayah Anas). Setelah Malik meninggal, beliau dilamar oleh Abu Thalhah dengan syarat masuk Islam sebagai maharnya, dan Abu Thalhah pun menerimanya. Ummu Sulaim wafat pada masa Khalifah Utsman bin Affan (radhiyallahu ‘anha).