Semua Paman Nabi Muhammad dari Jalur Ibu

Semua Paman Nabi Muhammad dari Jalur Ibu
Oleh Who Muhammad Is Tim
| Komentar

Nasab dan hubungan keluarga Nabi Muhammad ﷺ memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi dalam tradisi Islam. Di antara hubungan tersebut, peran dan kedudukan istimewa para kerabat Nabi dari jalur ibu, baik melalui ibundanya tercinta, Aminah binti Wahb, maupun melalui ayahnya, Abdullah bin Abdul-Muththalib, memiliki tempat yang khusus. Para kerabat tersebut, dikenal dalam bahasa Arab sebagai Akhwal al-Nabi (paman-paman Nabi dari pihak ibu), mendapatkan kedudukan mulia karena kedekatan mereka dengan Nabi, kemuliaan nasabnya, serta kontribusi penting mereka dalam sejarah Islam awal.

Artikel ini akan membahas secara detail kehidupan, keutamaan, dan kedudukan khusus para paman Nabi dari pihak ibu, baik dari jalur ibu maupun ayah beliau, serta dampak besar dan kehormatan tinggi yang diberikan kepada kabilah-kabilah mereka karena kedekatan hubungan dengan Rasulullah ﷺ.

Paman-Paman Nabi dari Pihak Ibunya

1. Al-Aswad bin Wahb

Beliau adalah Al-Aswad bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah. Sebagian riwayat menyebutkan namanya Wahb bin Al-Aswad. Disebutkan dalam beberapa riwayat lemah bahwa beliau pernah berinteraksi langsung dengan Nabi Muhammad ﷺ. Sebagai contoh, diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam riwayat lemah bahwa:

"Al-Aswad bin Wahb, paman Nabi dari pihak ibu, pernah meminta izin masuk menemui Nabi. Nabi pun bersabda, 'Masuklah, wahai paman.' Al-Aswad masuk, lalu Nabi menghamparkan jubahnya agar beliau duduk di atasnya."

2. Sa'd bin Abi Waqqash

Beliau berasal dari kabilah Bani Zuhrah. Nama lengkapnya adalah Sa'd bin Malik bin Wuhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Beliau masih memiliki hubungan kerabat dengan ibunda Nabi, Aminah binti Wahb; tepatnya sebagai sepupu beliau, bukan saudara kandungnya. Beliau dikenal pula dengan julukan Abu Ishaq. Imam Al-Bukhari dalam kitabnya (Al-Manaqib) menyebutkan:

"Sa'd bin Abi Waqqash dan Bani Zuhrah adalah para paman Nabi ﷺ dari pihak ibunya."

Sa'd bin Abi Waqqash dikenal sebagai sahabat yang mustajab doanya. Pada Perang Badar, Nabi Muhammad ﷺ secara khusus mendoakannya:

"Ya Allah, kabulkanlah doa Sa'd ketika ia berdoa kepada-Mu."

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda ketika melihat Sa'd bin Abi Waqqash:

"Inilah pamanku dari jalur ibu, tunjukkan padaku siapa yang memiliki paman seperti ini!"

Beliau termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga dan merupakan sahabat terakhir dari mereka yang wafat.

Hubungan Nasab:

Nasab ayah dan ibu Nabi Muhammad ﷺ bertemu pada Kilab bin Murrah. Kilab bin Murrah adalah saudara dari Qushay (leluhur kelima Nabi) sekaligus saudara dari Zuhrah (leluhur Aminah). Oleh karena itu, ibu Nabi serta paman-paman beliau dari jalur ibu berasal dari Bani Zuhrah.

Paman-Paman Nabi dari Pihak Ayahnya

Nenek Nabi dari pihak ayah, Salma binti Amr, berasal dari kabilah Bani Najjar. Ia adalah ibu dari Abdul-Muththalib, kakek Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, Bani Najjar juga dianggap sebagai paman-paman Nabi dari jalur ibu melalui garis keturunan ayah beliau.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah mengunjungi seorang laki-laki dari Bani Najjar yang sedang sakit. Nabi bersabda kepadanya:

"Wahai paman, ucapkanlah La ilaha illa Allah (Tidak ada Tuhan selain Allah)."

Laki-laki itu bertanya, "Apakah aku ini pamanmu dari pihak ibu atau ayah?" Nabi menjawab, "Kamu adalah pamanku dari jalur ibu." Di sini Nabi menegaskan kemuliaan hubungan keluarga dari jalur ibu ini.

Kemuliaan dan Keistimewaan Bani Najjar:

Bani Najjar adalah penduduk Madinah yang menyambut Nabi Muhammad ﷺ saat hijrah dan menjadi di antara pendukung terkuat beliau (kaum Anshar). Mereka terkenal menyambut Nabi dengan nyanyian terkenal:

"Thala'al Badru 'alayna min tsaniyyaatil wada’..." (Telah terbit bulan purnama atas kami dari bukit Tsaniyyatul Wada’),

dan anak-anak perempuan mereka membacakan syair penyambutan yang indah.

Wanita pertama dari Bani Najjar yang berbai'at kepada Nabi ﷺ adalah Ummu ‘Umarah, yang berbai'at dalam Bai'at Aqabah kedua. Bani Najjar juga mendapat kehormatan besar dengan menyusui Ibrahim, putra Nabi dari istrinya Mariyah Al-Qibthiyah, yang disusui oleh wanita bernama Ummu Burdah dari Bani Najjar.

Nabi Muhammad ﷺ pernah memuji Bani Najjar, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

"Rumah-rumah terbaik dari kaum Anshar adalah Bani Najjar, kemudian Bani Abdul Asy-hal, lalu Bani Al-Harits bin Al-Khazraj, kemudian Bani Sa'idah, dan setiap rumah kaum Anshar memiliki kebaikan."

Saat pertama kali tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah, Nabi akhirnya memilih tinggal bersama Abu Ayyub Al-Anshari dari Bani Najjar. Beliau kemudian mendirikan masjid dan rumah beliau di atas tanah milik dua anak yatim dari Bani Najjar bernama Sahl dan Suhail.

 

Kategori Kerabat

Tinggalkan Komentar

Harap jangan menggunakan nama bisnis Anda untuk berkomentar.