Al-Harith bin Abdul-Muttalib "Paman Nabi"

Al-Harith bin Abdul-Muttalib "Paman Nabi"
Oleh Who Muhammad Is Tim
| Komentar

Siapa Al-Harith bin Abdul-Muthalib?

Ia adalah Al-Harith bin Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf, salah satu paman Nabi Muhammad ﷺ dan putra tertua Abdul-Muthalib, yang darinya ia mendapat julukan. Ia wafat semasa ayahnya masih hidup, begitu pula ibunya, Shafiyyah binti Jundub. Beberapa ulama hadits melakukan kekeliruan dalam biografi beliau karena kesamaan namanya dengan beberapa keturunannya.

Ibnu Abi Hatim menyebutkan namanya dalam daftar orang-orang yang nama ayahnya dimulai dengan huruf ‘Ain, dan mengklaim bahwa ia menemani Nabi ﷺ, memegang jabatan administrasi di bawahnya, dan diangkat oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم untuk memimpin Makkah, sebelum kemudian pindah ke Bashrah. Ibnu Hajar رحمه الله mengomentari biografi ini, menyatakan bahwa Ibnu Abi Hatim telah melakukan kekeliruan besar.

Biografi tersebut sebenarnya merujuk pada cucunya, Al-Harith bin Nawfal bin Al-Harith bin Abdul-Muthalib, karena Al-Harith bin Abdul-Muthalib wafat pada masa Jahiliyyah dan tidak hidup hingga zaman Islam. Ia turut serta bersama ayahnya dalam menggali kembali sumur Zamzam. Ia memiliki beberapa anak laki-laki dan satu anak perempuan yang semuanya memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi ﷺ.

Anak-anak Al-Harith bin Abdul-Muthalib

Abu Sufyan bin Al-Harith

Seorang sahabat mulia yang masuk Islam saat penaklukan Makkah. Nama aslinya adalah Al-Mughirah, dan ibunya adalah Ghaziyyah binti Qays bin Zurayf bin Abd al-Uzza. Ia adalah sepupu sekaligus saudara sesusuan Nabi Muhammad ﷺ karena keduanya disusui oleh Halimah As-Sa’diyah. Ia memiliki kemiripan fisik dengan Nabi ﷺ.

Nawfal bin Al-Harith

Putra tertua Al-Harith bin Abdul-Muthalib. Ia memiliki seorang putra bernama Al-Harith, yang menjadi julukannya. Ia adalah sahabat Nabi ﷺ, meriwayatkan hadits darinya, dan haditsnya juga diriwayatkan oleh orang lain. Salah satu putranya, Abdullah bin Nawfal, menjadi hakim pertama di Madinah.

Ia juga memiliki anak-anak lain: Sa’id bin Nawfal, seorang ahli fikih; Abdurrahman; Rabi’ah; dan Al-Mughirah bin Nawfal. Dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mewasiatkan istrinya, Umamah binti Abil-‘Ash bin Ar-Rabi’, kepada Al-Mughirah setelah wafatnya, lalu ia menikahinya dan Umamah wafat di sisinya.

Abdullah bin Al-Harith

Awalnya bernama Abd Syams, lalu Nabi ﷺ menggantinya menjadi Abdullah setelah ia masuk Islam. Ia hijrah dari Makkah sebelum penaklukannya dan turut serta dalam beberapa pertempuran bersama Nabi ﷺ. Ia wafat semasa hidup Nabi ﷺ, dan dimakamkan oleh Nabi dengan bajunya. Ia tidak memiliki keturunan.

Rabi’ah bin Al-Harith

Ia lebih tua dari pamannya Al-Abbas رضي الله عنهما. Ia wafat pada masa kekhalifahan Umar رضي الله عنه, setelah kedua saudaranya, Nawfal dan Abu Sufyan. Ia tinggal di Madinah. Diriwayatkan bahwa ia dan Al-Abbas pernah meminta kepada Nabi ﷺ agar anak-anak mereka diberi jabatan, namun Nabi ﷺ menolak untuk menjaga Ahlul Bait dari godaan dunia dan jabatan.

Umayyah bin Al-Harith

Beberapa ahli sejarah dan biografi menyebutnya sebagai salah satu anak Al-Harith bin Abdul-Muthalib, namun tidak meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan. Informasi tentang kehidupannya sangat terbatas, bahkan sebagian sumber tidak menyebutkannya sama sekali, dan menggantinya dengan Qutsam bin Al-Harith yang wafat saat masih kecil.

Arwa binti Al-Harith

Salah satu sahabiyah Quraisy yang terkenal karena kefasihannya. Ia hidup hingga masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه dan tinggal di Madinah. Ia pernah menghadap Muawiyah dan menegurnya setelah mendengar perselisihannya dengan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, dengan membanggakan nasab Bani Hasyim di atas Bani Umayyah.

Ketika seseorang di majelis menjawabnya, ia membungkamnya. Orang lain mencoba membalas, namun ia juga membungkamnya. Setelah ia keluar, Muawiyah berkata kepada hadirin, “Demi Allah, seandainya seluruh orang dalam majelis ini mendebatnya, ia akan menjawab setiap orang dengan jawaban yang berbeda! Sungguh, wanita-wanita Bani Hasyim lebih fasih dari laki-laki selain mereka!” Ia kemudian memuliakannya, dan ia wafat pada masa kekuasaan Muawiyah di Madinah.

Peran Al-Harith bin Abdul-Muthalib di Quraisy dan Statusnya Sebelum Islam

Al-Harith bin Abdul-Muthalib memiliki kedudukan penting di tengah Quraisy. Sebagai putra tertua Abdul-Muthalib — pemimpin Quraisy dan penjaga Zamzam serta Ka'bah — Al-Harith dianggap sebagai tangan kanan ayahnya dalam urusan kesukuan dan administrasi. Ia mewarisi kharisma ayahnya dan sangat dihormati oleh klan Bani Hasyim.

Statusnya diperkuat oleh sikapnya yang bermartabat, hubungan sosial yang kuat, serta penghormatannya yang dalam terhadap adat suku. Ia dipandang sebagai sosok yang dapat diandalkan dalam masa krisis, dan dibesarkan dalam keluarga yang dikenal dengan kepemimpinan, kemurahan hati, serta pengaruh religius — semua ini memberinya penghormatan luas di masyarakat Makkah masa Jahiliyyah.

Partisipasinya dalam Menggali Sumur Zamzam bersama Ayahnya

Salah satu momen paling berkesan dalam hidup Al-Harith adalah dukungannya kepada ayahnya, Abdul-Muthalib, saat menggali kembali sumur Zamzam yang telah lama terkubur. Abdul-Muthalib mendapat mimpi berulang yang memerintahkannya menggali sumur tersebut, dan saat itu, Al-Harith adalah satu-satunya putranya, menjadikannya satu-satunya penolong.

Meski menghadapi penolakan dari Quraisy, Al-Harith tetap setia mendampingi ayahnya. Ia menggali di siang hari dan menjaga ayahnya di malam hari, hingga tanda-tanda sumur muncul dan air memancar keluar. Peristiwa ini mengejutkan penduduk Makkah dan membawa berkah besar. Sebagai hasilnya, Abdul-Muthalib dan Al-Harith mendapat kehormatan besar, dan Al-Harith pun dikenal sebagai mitra utama dalam keberhasilan ilahi ini.

Status Al-Harith bin Abdul-Muthalib Sebelum Islam dan Wafatnya

Al-Harith hidup di masa Jahiliyyah dan dikenal sebagai pemimpin serta bangsawan yang dihormati di Makkah, namun ia wafat sebelum datangnya Islam. Itu berarti ia tidak menyaksikan misi kenabian Muhammad ﷺ dan tidak memiliki sikap yang tercatat terhadapnya. Namun, pengaruhnya tetap hidup melalui anak-anaknya yang semuanya memeluk Islam, dan sebagian menjadi sahabat dekat Nabi Muhammad ﷺ.

Ia wafat semasa hidup ayahnya, Abdul-Muthalib. Anak-anaknya kemudian meneruskan warisannya dan menjadi pendukung awal dakwah Islam. Karena kesamaan nama, beberapa sejarawan keliru membedakannya dengan cucunya, Al-Harith bin Nawfal, yang benar-benar menjadi sahabat Nabi. Namun, para ulama ahli sejarah berhasil membedakan kedua tokoh ini dengan jelas.

Kategori Kerabat

Tinggalkan Komentar

Harap jangan menggunakan nama bisnis Anda untuk berkomentar.