Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib "Paman Nabi"
-
Siapa Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib?
-
Garis Keturunan dan Keluarga Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
-
Istri dan Anak-anak Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
-
Puisi Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
-
Peran Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib dalam Hilf al-Fudul
-
Kematian Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
Siapa Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib?
Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, tokoh terkemuka Quraisy dan bangsawan Bani Hasyim pada masa pra-Islam, adalah paman dari Nabi Muhammad ﷺ dari pihak ayah. Ia lahir di Makkah dalam salah satu keluarga paling terhormat di kalangan Quraisy dan tumbuh besar sebagai bagian dari kaum bangsawan.
Ia adalah saudara kandung Abdullah bin Abdul-Muttalib (ayah Nabi), menjadikannya paman Nabi secara langsung. Az-Zubayr dikenal karena kebijaksanaan, keberanian, dan kehormatannya. Ia sangat dihormati oleh kaumnya dan memainkan peran penting dalam aliansi-aliansi awal Quraisy.
Lebih dari sekadar bangsawan, Az-Zubayr adalah seorang pejuang pemberani dan pemimpin komunitas yang mendukung sukunya di saat konflik dan krisis. Ia adalah salah satu dari sepuluh pria yang membentuk Hilf al-Fudul (Persekutuan Kebajikan) yang terkenal, di mana para pemimpin Quraisy bersumpah untuk melindungi yang tertindas dan mengembalikan hak-hak kepada yang berhak, tanpa memandang afiliasi suku.
Meskipun Az-Zubayr wafat sebelum misi kenabian Islam dimulai, pengaruhnya tetap terasa. Nabi Muhammad ﷺ sering menyebutnya dengan baik dan menghormati ingatannya.
Garis Keturunan dan Keluarga Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
Az-Zubayr adalah putra Abdul-Muttalib bin Hasyim, pemimpin Quraisy pada masanya dan pria dengan kedudukan tinggi. Ibunya adalah Fatimah binti Amr bin A’idh bin Imran bin Makhzum, seorang wanita bangsawan dari klan Makhzum, salah satu keluarga terhormat Quraisy.
Dengan demikian, Az-Zubayr mewarisi kebangsawanan dari kedua orang tuanya. Ia mencapai kedudukan tinggi di Makkah dan terlibat dalam pengambilan keputusan penting bagi sukunya, baik dalam masa damai maupun perang.
Istri dan Anak-anak Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
Az-Zubayr menikahi Atikah binti Abi Wahb bin Amr bin A’idh al-Makhzumiyyah, seorang wanita berdarah bangsawan Quraisy. Mereka memiliki beberapa anak, yang paling menonjol di antaranya:
- Abdullah bin Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib: Seorang bangsawan Quraisy terkenal pada masa pra-Islam yang kemudian mendukung Nabi Muhammad ﷺ pada awal dakwah. Ia masuk Islam sebelum Hijrah dan memiliki keturunan yang berperan penting dalam penaklukan Islam.
- Dirar bin Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib: Seorang penyair dan pejuang yang disebut dalam literatur Islam awal. Dikatakan bahwa ia ikut dalam beberapa pertempuran pada masa Nabi dan setelahnya.
- Tawilah binti Az-Zubayr: Ia menikah dengan keluarga bangsawan Quraisy lainnya dan dikenal sebagai wanita saleh dan berbudi luhur.
Dengan demikian, keturunan Az-Zubayr meneruskan warisannya, dan anak serta cucunya memberikan kontribusi besar dalam sejarah Islam.
Puisi Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
Az-Zubayr adalah penyair yang ulung dan dianggap sebagai salah satu penyair Quraisy terkemuka pada masa pra-Islam. Syair-syairnya mencerminkan nilai-nilai kebanggaan, kehormatan, keadilan, dan loyalitas suku. Meskipun tidak ada kumpulan puisi lengkap yang tersisa, beberapa kutipan masih dilestarikan dalam sumber-sumber sejarah.
Salah satu puisinya yang paling sering dikutip:
Kami adalah kaum yang sabar, setia, dan dermawan
Dari keturunan mulia dan warisan terpuji
Ketika yang tertindas mengadu, kami bangkit menolong
Dan kami tak tidur semalaman jika ketidakadilannya nyata
Kami lindungi siapa pun yang meminta perlindungan
Dan kami jaga tetangga dari musibah yang paling berat
Syair ini mencerminkan komitmen mendalam Az-Zubayr terhadap nilai-nilai keadilan dan keramahtamahan. Puisinya sering digunakan untuk membela kehormatan Bani Hasyim dan menginspirasi orang lain dengan pesan kesatria dan integritas.
Disebutkan pula bahwa ia sering memuji garis keturunannya dan bangga akan kebajikan klannya saat berhadapan dengan suku-suku pesaing.
Peran Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib dalam Hilf al-Fudul
Salah satu peristiwa paling penting dalam kehidupan Az-Zubayr adalah partisipasinya dalam Hilf al-Fudul (Persekutuan Kebajikan). Aliansi ini dibentuk oleh sekelompok pemimpin Quraisy yang berjanji untuk mendukung yang tertindas dan menegakkan keadilan. Perjanjian ini diadakan di rumah Abdullah bin Jud’an, dan anggotanya termasuk: Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib, Abdullah bin Jud’an, dan Waraqah bin Nawfal.
Nabi Muhammad ﷺ kemudian mengenang perjanjian ini dengan mengatakan:
“Aku menyaksikan di rumah Abdullah bin Jud’an sebuah perjanjian yang sangat mulia, yang tidak akan kutukar dengan unta merah. Jika aku dipanggil untuk itu dalam Islam, aku akan menerimanya.”
Pernyataan ini menunjukkan betapa tingginya penghargaan Nabi terhadap perjanjian tersebut, dan peran kunci Az-Zubayr dalam hal ini menyoroti kedudukannya yang luhur bahkan sebelum Islam.
Kematian Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib
Az-Zubayr bin Abdul-Muttalib wafat tidak lama sebelum Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu Islam. Oleh karena itu, ia tidak termasuk dalam para sahabat (Sahabat Nabi), tetapi tetap dikenang dengan penuh rasa hormat karena tindakan mulianya dan kepribadiannya yang terhormat.
Ia wafat di Makkah dan dimakamkan di sana. Kaum Quraisy berduka atas kematiannya karena ia dikenal sebagai pemimpin bijaksana dan pria berprinsip. Warisannya terus hidup melalui keturunannya dan kekaguman dari mereka yang mengenangnya.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sering menyebut pamannya ini dengan penuh kasih, mengatakan: “Az-Zubayr adalah pria mulia di antara kami, ia senang membantu orang lain dan memenuhi kebutuhan mereka.”
Meskipun ia tidak menyaksikan awal Islam, pengaruh moral dan tindakan terhormatnya membantu membuka jalan bagi nilai-nilai yang kemudian ditegakkan oleh Islam.