Dirar bin Abd al-Muttalib "Paman Nabi"
Dhirar bin Abd al-Muttalib, salah satu paman Nabi Muhammad ﷺ dari jalur ayah, berasal dari kabilah terkemuka Bani Hasyim dari suku Quraisy. Meskipun tidak setenar saudara-saudaranya seperti Hamzah atau al-Abbas, sumber-sumber klasik mengenang Dhirar sebagai seorang pemuda tampan dan dermawan yang mencerminkan kemuliaan praislam Bani Hasyim di Makkah.
Nama dan Nasab Dhirar bin Abd al-Muttalib
Nama lengkapnya adalah Abu Amr Dhirar bin Abd al-Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ibunya adalah Natileh binti Janab bin Kulayb. Ia berbagi kakek yang sama, yaitu Hasyim, dengan Nabi Muhammad ﷺ, menjadikannya paman kandung beliau. Dhirar tidak pernah menikah dan tidak memiliki keturunan. Beberapa ahli nasab menyebutkan bahwa ia tujuh tahun lebih tua dari saudaranya, al-Abbas.
Dhirar dan Kedudukannya di Kalangan Pemuda Quraisy
Sumber-sumber klasik menyebutnya sebagai “pemuda Quraisy yang paling tampan dan paling dermawan.” Saudaranya, penyair al-Zubayr bin Abd al-Muttalib, memujinya dalam bait-bait syair atas kemurahan hatinya, yang menunjukkan kedudukan sosialnya yang tinggi di Tanah Haram.
Bakat Sastra Dhirar
Seperti banyak anggota Bani Hasyim lainnya, Dhirar juga menggubah puisi. Ia tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan sastra, dikelilingi oleh saudara-saudaranya seperti al-Zubayr, Abu Thalib, dan Hamzah, menjadikan rumah mereka semacam salon sastra di Makkah kala itu.
Kehidupan Dhirar bin Abd al-Muttalib Sebelum Kenabian
Kemungkinan ia lahir sekitar tahun 559 M. Dhirar hidup di masa kejayaan dagang Quraisy dan mungkin menyaksikan Perang Fijar serta perjanjian Hilf al-Fudul, meskipun tidak ada peran besar yang tercatat atas namanya dalam peristiwa-peristiwa tersebut.
Wafatnya Dhirar bin Abd al-Muttalib & Pandangannya terhadap Islam
Sebagian besar ahli sejarah klasik menyebutkan bahwa ia wafat sebelum peristiwa Hijrah (sekitar tahun 622 M), yang menunjukkan bahwa ia tidak secara terbuka memeluk Islam. Namun, beberapa penulis masa kemudian berspekulasi bahwa ia mungkin telah menerima Islam secara diam-diam. Tidak ada bukti yang pasti mengenai hal ini.